Rupiah Lemah Banyak Bikin Rugi

Tesa Oktiana Surbakti
19/3/2015 00:00
Rupiah Lemah Banyak Bikin Rugi
(MI/Atet Dwi Pramadia)
KURS rupiah yang lemah disebut para pengusaha lebih banyak menimbulkan kerugian, bahkan bagi sejumlah eksportir.

Hal itu disebabkan ketergantungan terhadap bahan baku impor yang relatif tinggi.

Di sisi lain, daya beli domestik tengah loyo akibat digempur harga beras yang sempat melonjak, disertai penaikan harga premium dan elpiji. Kondisi itu menambah tekanan terhadap pengusaha.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajad mengakui yang paling besar mengalami tekanan ialah pelaku industri yang hanya memiliki pangsa di dalam negeri.

"Kalau yang tujuannya ekspor, memang (dampaknya) tidak terlalu ya," ujar Ade kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon, kemarin.

Tercatat 5.200 industri tekstil yang tergabung dalam API. Dari jumlah tersebut, 40% di antaranya merupakan industri yang berfokus melayani kebutuhan domestik.

Sebanyak 60% sisanya memiliki pangsa pasar ekspor.

Ade mengungkapkan mayoritas industri memiliki kandungan impor di atas 50%.

Ia mencontohkan pelembut pakaian dan pembersih bakteri yang biasa diimpor dari Jepang, Eropa, dan Korea.

Biaya produksi meningkat, tetapi pelaku industri yang menjual produk di dalam negeri tidak bisa begitu saja menaikkan harga.

Daya beli masyarakat yang melemah membuat pengusaha tidak berani menaikkan harga.

"Masyarakat beli kebutuhan primer seperti beras saja sudah ketar-ketir. Kalau harga tekstil naik, bisa-bisa enggak ada yang beli," cetus Ade.

Saat dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko menyatakan rupiah yang lemah tidak bisa dimanfaatkan untuk menggenjot ekspor.

Itu yang terjadi pada industri alas kaki.

"Untuk bidang lain, mungkin benar bisa tingkatkan ekspor. Kalau untuk usaha sepatu, tidak ada manfaat yang bisa diambil dari pelemahan rupiah," cetusnya.

Lagi-lagi ketergantungan terhadap bahan baku imporlah yang menjadi biang keladi.

Dari 500-an perusahaan alas kaki yang tergabung dalam Aprisindo, 70% di antaranya menggunakan pasokan bahan baku dari negara luar, seperti Tiongkok, Korea, dan Taiwan.

"Parahnya importir tidak bisa diutangi lagi. Mereka maunya tunai. Alasannya takut sama rupiah yang enggak stabil," ucap Eddy.

Produsen alas kaki kini bimbang karena biaya produksi telah mendesak untuk menaikkan harga.

Berbeda dengan pengusaha alas kaki, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan pengusaha barang elektronik ritel telah banyak yang menaikkan harga.

Sisanya, menurut Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta, masih menunggu situasi ke depan dengan pertimbangan daya beli masyarakat.

Masih diapresiasi
Dalam pemaparan laporan Indonesia Economic Quarterly, di Jakarta, kemarin, ekonom Bank Dunia Ndiame Diop menilai rupiah masih diapresiasi dunia.

Pelemahan rupiah sudah terjadi dalam delapan bulan belakangan sejak dolar AS menguat.

Pada saat yang sama depresiasi mata uang yang lainnya juga terjadi hampir di setiap negara.

"Namun, nilai tukar rupiah menguat relatif terhadap mata uang lainnya yang terutama yen Jepang dan euro," ujar Diop.

Ia menyarankan pembuat kebijakan Indonesia fokus pada perubahan-perubahan kunci yang dapat meningkatkan arus modal dolar AS.

Kurs rupiah masih melanjutkan penguatan terhadap dolar AS, kemarin.

Kendati begitu, nilai tukar rupiah tetap bertahan di atas 13 ribu per dolar AS. (Jes/Ire/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya