'MEMANG uang bisa bikin orang senang bukan kepalang, tetapi uang bisa juga bikin orang mabuk kepayang. Lupa sahabat, lupa kerabat, lupa saudara, mungkin juga lupa ingatan. Oh, uang, lagi-lagi uang'.
Itulah penggalan lirik lagu berjudul Uang yang bergaung di dunia musik Tanah Air di era 1980-an.
Lagu yang dipopulerkan Nicky Astria itu bercerita bahwa uang mampu membuat orang menjadi jahat.
Syair lagu itu rupanya benar.
Hasil eksperimen yang dilakukan oleh Profesor Psikologi Sosial Paul Piff mengungungkapkan, uang yang melimpah mampu mengubah orang menjadi tamak dan berbuat semena-mena.
Dalam penelitian itu si miskin justru merupakan makhluk Tuhan yang paling dermawan.
Penelitian ini dilakukan pada warga Los Angeles, Amerika Serikat. Penentuan objek penelitian ini didasarkan karena orang-orang terkaya dari berbagai penjuru dunia senantiasa meluangkan waktu menikmati kota yang menjadi markas pembuatan film-film ala Hollywood ini.
"Sekitar 50% pengendara mobil mewah yang terlibat dalam eksperimen melanggar peraturan, sementara tak satu pun pengendara mobil murah melanggar aturan," ungkap Piff.
Orang-orang kaya yang diteliti Piff juga sering kali melakukan kecurangan ketika bermain monopoli, tidak mau memperlakukan anak kecil dengan manis, dan tidak berminat meluangkan waktu dengan orang lain.
Setelah hampir 10 tahun melakukan penelitian dengan berbagai eksperimen sejenis, ia berkesimpulan bahwa semakin Anda kaya maka Anda akan semakin egois.
"Kekayaan Anda justru menjadikan Anda lebih mengutamakan kepentingan pribadi," kata dia.
Piff melihat orang kaya cenderung mengisolasi diri dari pergaulan. Ketika menghadapi masalah, orang kaya cenderung menggunakan uang mereka untuk menghibur diri.
Orang miskin justru berperilaku kebalikannya. Ketika menghadapi masalah, mereka cenderung mencari orang lain untuk berbagi pergumulannya.
Intensitas komunikasi dengan orang lain ini memunculkan kepekaan dan kepedulian pada orang lain.
Prof Kathleen Vohs dari Minnesota University menemukan hal serupa.
Awalnya Vohs mengira orang yang ia bayar akan lebih tanggap membantunya mengumpulkan pensil-pensil miliknya.
Ternyata tidak! Orang yang tidak dibayar justru menunjukkan sikap yang lebih teliti dan berhati-hati dalam mengumpulkan pensil-pensil miliknya.
"Motivasi uang memengaruhi cara mereka melakukan pekerjaannya sehingga tidak melakukan sepenuh hati," ungkap Vohs.