Investor Kakap Anggap Indonesia Kurang Menarik

Bow/Ant/E-2
19/3/2015 00:00
Investor Kakap Anggap Indonesia Kurang Menarik
(ANTARA/Fanny Octavianus)
SEJUMLAH investor asing menganggap Indonesia bukan tempat menarik bagi investasi.

Hal itu diungkapkan Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi seusai rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (17/3) malam.

"Pada investasi skala besar masih kurang menarik karena Indonesia kurang proaktif dalam melaksanakan dan membuka pasar ekspor melalui perundingan bilateral maupun regional," kata dia.

Menurut dia, perusahaan-perusahaan asing tidak hanya melihat besarnya pangsa pasar yang nyaris 250 juta jiwa, tapi juga daya ekspor komoditas yang telah diproduksi investor tersebut di Indonesia.

Terkait permasalahan tersebut, Kemendag juga telah menerima arahan dari Menko Perekonomian untuk meninjau ulang dan memetakan kembali setiap pakta perdagangan luar negeri (free trade agreement/FTA) Indonesia, baik yang bilateral maupun multilateral.

"Kementerian Perdagangan diminta dalam dua bulan sudah menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan perundingan perdagangan ini karena banyak yang belum selesai," ujar Bachrul.

Dari instruksi Presiden, pemerintah akan melanjutkan keterbukaan terhadap perdagangan internasional.

Meski begitu, Indonesia harus bisa meningkatkan manfaat yang dipetik dari perjanjian-perjanjian itu, yang sekarang dirasa belum maksimal.

"Indonesia bermasalah di transposisi, partner dagang kita sering menganggap kita tidak melakukan transposisi sesuai komitmen," kata Bachrul.

Transposisi merupakan kegiatan lima tahunan yang dilaksanakan negara-negara di dunia yang berkaitan dengan harmonisasi tarif perdagangan.

Lantaran hal itu, produk Indonesia seolah diboikot oleh sejumlah negara.

Ia mencontohkan pada kasus tuna.

Indonesia merupakan produsen tuna terbesar di ASEAN dengan bea masuk di Eropa 22,5%.

"Tapi Filipina, Malaysia, Vietnam yang sebagian tunanya dari perairan kita, dikenai bea masuk 0%," kata Bachrul.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya