Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGKAIAN aksi teror yang terjadi belakangan ini diyakini tidak sampai mengganggu perekonomian nasional.
Pengamat ekonomi dari Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi optimistis sederetan aksi teror tidak akan berdampak signifikan terhadap keberlangsungan dunia usaha. Pasalnya, pelaku pasar finansial dan sektor riil dinilai semakin memiliki kedewasaan dalam menyikapi gejolak aksi teror.
"Dampaknya sangat kecil dan mungkin tidak akan signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas pelaku sektor riil dan pasar finansial sudah tidak banyak terpengaruh atau imun teror. Aparat keamanan pun bergerak cepat untuk mengendalikan kondisi keamanan," ujar Eric saat dihubungi, kemarin.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira pun mengamini pihak berwajib akan bergerak cepat mengembalikan kondisi keamanan, khususnya di Surabaya. Menurutnya, efek yang ditimbulkan dari aksi teror terhadap kepercayaan investor juga relatif kecil. Dia mencontohkan peristiwa penyerangan salah satu gereja di Yogyakarta yang hampir tidak berdampak ke sentimen pasar. Lebih lanjut dia menekankan, investor cenderung menaruh atensi terhadap pergerakan data ekonomi makro dan kondisi faktor eksternal.
"Investor saat ini lebih mencermati data-data ekonomi makro dan tren kenaikan suku bunga acuan The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat). Saya kira pekan depan IHSG (indeks harga saham gabungan) justru dibuka menguat ke 6.000-6.100, sedangkan untuk iklim dunia usaha di Surabaya juga tidak terlalu terdampak," kata Bhima.
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih dihantui tekanan faktor eksternal, termasuk dari arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) berikut persoalan geopolitik. Pekan depan, pergerakan kurs diproyeksi berada di level 13.900-14.100 per dolar AS.
"Untuk beberapa hari ke depan, saya perkirakan pergerakannya masih di kisaran 13.900 sampai 14.100 per dolar AS," ujar Eric.
Eric memandang kondisi nilai tukar belakangan ini kian menjauh dari fundamentalnya. Berdasarkan perhitungannya, fundamental nilai tukar berada di level 13.500 hingga 13.700 per dolar AS. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, nilai tukar sebagai salah satu indikator ekonomi makro, dipatok 13.400 per dolar AS.
Lebih lanjut Eric berpendapat teknan terhadap rupiah lebih disebabkan kombinasi sejumlah faktor, di antaranya penguatan dolar AS, arus repatriasi investor asing yang bersifat musiman (seasonal) biasa terjadi pada kuartal II per tahun, serta sentimen negatif pelaku pasar dan investor portofolio.
"Rupiah bisa menguat jika tekanan eksternal mereda, misalnya investor asing mulai masuk lagi ke SBN (surat berharga negara) dan saham. Tentunya apabila BI akhirnya menaikkan BI 7 day reserve repo rate (BI 7DRRR)," terang Eric.
Pekan lalu rupiah ditutup di 13.943 per dolar AS. (E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved