Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI tukar rupiah masih dihantui tekanan faktor eksternal, termasuk dari arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) berikut persoalan geopolitik. Pekan depan, pergerakan kurs diproyeksi berada di level Rp 13.900-14.100 per dolar AS.
"Untuk beberapa hari ke depan, saya perkirakan pergerakannya masih di kisaran Rp 13.900-14.000 per dolar AS," ujar pengamat ekonomi Asian Development Bank (ADB) Eric Sugandi kepada Media Indonesia, Minggu (13/5).
Eric memandang kondisi nilai tukar belakangan ini kian menjauh dari fundamentalnya. Berdasarkan perhitungannya, fundamental nilai tukar berada di level Rp 13.500-13.700 per dolar AS. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, nilai tukar sebagai salah satu indikator ekonomi makro, dipatok Rp 13.400 per dolar AS.
Sepanjang pekan terakhir, pergerakan kurs mengalami depresiasi bahkan sudah melampaui level Rp 14.000 per dolar AS. Lebih lanjut Eric berpendapat teknan terhadap rupiah lebih disebabkan kombinasi sejumlah faktor. Di antaranya penguatan dolar AS, arus repatriasi investor asing yang bersifat musiman (seasonal) biasa terjadi pada kuartal II per tahun, serta sentimen negatif pelaku pasar dan investor portofolio.
"Rupiah bisa menguat jika tekanan eksternal mereda. Misalnya, investor asing mulai masuk lagi setelah SBN (Surat Berharga Negara) dan saham alami koreksi signifikan di mana harganya relatif mahal dibandingkan beberapa tahun lalu (2008-2010). Dan tentunya apabila Bank Indonesia akhirnya menaikkan BI 7 Day Reserve Repo Rate (BI 7DRRR)," terang Eric. Bank Indonesia membuka opsi kenaikan suku bunga acuan yang saat ini berada di level 4,25 persen, guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Di lain sisi, ekonom INDEF Bhima Yudhistira langkah Bank Indonesia memberikan sinyal kenaikan BI 7DRRR memberikan sentimen positif pada penguatan kurs. Menurutnya, kenaikan tingkat suku bunga acuan turut berdampak postif terhadap kenaikan imbal hasil (yield) surat utang, maupun instrumen investasi lokal. Pun, dampak dari kenaikan suku bunga acuan dalam rentang 25-50 basis poin (bps) tidak akan ditransmisikan secara langsung pada kenaikan suku bunga kredit. Pasalnya, likuditas bank sejauh ini masih longgar.
"Namun terdapat faktor yang harus jadi perhatian. Terutama melebarnya defisit transaksi berjalan (CAD) di triwulan I 2018. Begitu juga kebutuhan valas untuk pembagian dividen (korporasi), serta penurunan kepercayaan konsumen (consumer confidence). Terlihat dari IKK (survei Bank Indonesia) yang menurun dari 126,1 per Januari 2018, menjadi 122 di April 2018," kata Bhima yang memprediksi pergerakan nilai tukar pada pekan depan berkisar Rp 13.900-14.000 per dolar AS.
Sementara itu, menyoroti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok pada pekan sebelumnya, menjadi momentum bagi investor domestik untuk memburu saham saham dengan kinerja prospektif. Sebagai gambaran, pembelian saham investor domestik dalam seminggu terakhir mencapai Rp 25 triliun. Dengan begitu, IHSG berpotensi menguat kembali (rebound) di kisaran 6.000-6.100.(OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved