Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi memastikan ketersediaan stok pangan pada tahun ini aman. Sebab produksi bahan pangan mampu memenuhi kebutuhan. Dengan ketersediaan stok yang aman itu, harga pangan pada Ramadan tahun ini diyakini dapat terjaga.
"Bicara harga pangan saat ini bukanlah hal sulit. Menjadi tidak sulit karena pada 2017 berhasil dikendalikan. Ini konteksnya bukan hanya daging, tapi semua komoditas pangan bisa dikendalikan dengan baik. Termasuk sinergi kelembagaan yang sudah dilakukan dengan baik, tinggal diulangi saja," ujar Agung di Jakarta, Sabtu (12/5).
Stok yang aman itu terlihat dari komoditas beras. Agung mengatakan stok beras di Bulog saat ini sekitar 1,2 juta ton, sementara di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) terdapat stok beras sekitar 43.349 ton.
“Jadi stok berlebihan, normalnya 23.000 - 30.000 ton. Harga beras saat ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, namun dalam dua minggu ini ada kecenderungan menurun,” sebutnya.
Kecenderungan turun itu disebabkan adanya produksi beras mencapai 8,1 juta ton pada Mei dan Juni. Hal itu bisa menutupi kebutuhan beras pada puasa dan Idul Fitri yang diprediksi mencapai 5,3 juta ton
Selain beras, ketersediaan pasokan yang cukup juga berlaku bagi komoditas bawang dan cabai. Untuk bawang merah, perkiraan produksi pada Mei dan Juni tahun ini sebesar 306.000 ton dengan perkiraan ketersediaan bersihnya sekitar 252,700 ton.
"Sementara kebutuhan dalam periode tersebut sekitar 216.600 ton," sebutnya.
Untuk cabai besar, produksi pada Mei dan Juni diperkirakan sekitar 224.500 ton dengan perkiraan kebutuhan sekitar 186.600 ton. Sedangkan perkiraan produksi cabai rawit pada Mei dan Juni sekitar 178.800 ton dengan kebutuhan sebesar 113.100 ton.
Meski demikian, Agung mengakui terdapat persoalan pada kedelai, daging sapi dan gula pasir. Namun, hal itu sudah diantisipasi. Untuk gula pasir, pada Juni-September sudah memasuki musim giling. Sementara, sampai saat ini Bulog masih memiliki stok sebanyak 400.000 ton
“Untuk daging sapi secara nasional produksinya baru 80%. Namun, impor Indonesia sebanyak 42.000 ton pada 2018, jadi tidak perlu dikhawatirkan ketersediaannya di ramadan dan lebaran,” jelasnya.
Berdasarkan data BKP, kebutuhan daging sapi pada Mei dan Juni tahun ini berkisar 116.400 ton sementara produksi daging sapi dalam negeri hanya sekitar 75.400 ton.
Kenaikan harga daging ayam dan telur selama seminggu terakhir juga mendapat perhatian pemerintah. Menurutnya kenaikan harga dua komoditas itu dipengaruhi kenaikan harga pakan akibat menguatnya dolar AS. Sehingga pemerintah akan mengajak produsen ayam dan telur untuk membahas hal ini.
Akan tetapi, lanjut Agung, produksi ayam dan telur di dalam negeri masih bisa memenuhi kebutuhan nasional. Ia menyebut produksi ayam pada Mei dan Juni sekitar 626.100 ton dengan kebutuhan sebesar 535.100 ton.
"Untuk produksi telur sebesar 304.300 ton dengan kebutuhan sebesar 303.900 ton," ucapnya.
Agung menegaskan bahwa BKP akan terus berupaya menjaga pasokan dan menstabilkan harga bekerjasama dengan Kemendag dan Bulog.
Diantaranya membuka lapak di pasar untuk mempengaruhi harga supaya tidak meningkat. Lalu membuka bazar pasar murah, monitoring harian, dan memasarkan secara e-commerce bahan pokok pertanian.
Sementara itu Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan Muhri mengatakan, terdapat beberapa langkah yang dilakukan Kemendag dalam menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan bahan pokok.
Pertama yakni denga melakukan penguatan regulasi. Penguatan regulasi ini dengan cara menetapkan harga acuan dan Harga Eceran Tertinggi untuk komoditas beras dan pendaftaran pelaku usaha bahan pokok.
“Seluruh pelaku, distributor sampai agen, wajib mendaftar secara online apa fungsinya dan stoknya berapa, serta jenis komoditi apa. Ini sudah dilakukan sejak tahun 2017,” sebutnya.
Langkah kedua yakni dari sisi penatalaksanaan. Kasan menjelaskan, Kemendag terus melakukan rapat koordinasi dengan pemerintah daerah, instansi terkait dan pelaku usaha terkait bahan-bahan pokok ini.
'Kemendag juga bersinergi dengan BUMN pelaku usaha dan menugaskan Bulog untuk menjaga ketersediaan bahan pokok," ungkapnya.
Selain itu, Kemendag terus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap ketersediaan bahan pokok tersebut
"Kami menugaskan eselon I ke provinsi dan bekerja sama dengan satgas pangan untuk memastikan kondisi stok dan harga pangan. Pemantauan dan pengawasan ini tidak hanya dilakukan pada bulan puasa dan lebaran, namun juga hingga akhir tahun," pungkasnya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved