Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIRJEN Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman menyebut permintaan imbal hasil (yield) yang tinggi terhadap surat utang negara (SUN) akibat pasar yang masih bergejolak (volatile). Terlebih pergerakan nilai tukar yang masih belum stabil.
Diketahui pada lelang SUN Selasa (8/5) lalu, investor meminta yield sebesar 7,95%. Padahal, lanjut Luky, yield SUN Indonesia secara fundamental dikisaran 7,1%. Ditambah, penawaran pembiayaan yang diterima pemerintah hanya Rp7,18 triliun dari target Rp17 triliun. Alhasil pemerintah memutuskan tidak menyerap dana dari lelang lima seri SUN tersebut.
"Yang terjadi pelaku pasar masih melihatnya ini sudah stabil atau belum, itu yang buat market volatile," ujar Luky di Gedung Kemenkeu Jakarta, Jumat (11/5).
Luky menambahkan, permintaan yield SUN yang tinggi, penawaran yang rendah, dan gejolak di pasar itu tidak lepas dari naiknya yield obligasi AS yang sudah menyentuh 3%. Sehingga, kata Luky, saat ini pasar masih melakukan penyesuaian dengan keadaan yang bisa disebut "new normal".
"Kita sekarang sedang menyesuaikan diri semua, sudah mencapai ekuilibrium belum," sebutnya.
Jika pasar sudah menemukan ekuilibrium, Luky yakin permintaan terhadap SUN akan kembali meningkat dan yield bisa kompetitif.
"Kalau market steady (stabil) saya yakin permintaan (SUN) akan kembali ke semula. Tapi kalau kembali ke yield SUN 6,3% sangat berat," sebutnya.
Meski lelang SUN tidak berhasil, Luky mengatakan pemerintah telah mempersiapkan berbagai antisipasi agar tetap bisa mendapat dana pinjaman.
Bentuk antisipasinya yakni dengan melakukan pinjaman multilateral dan private placement. Selain itu, Kemenkeu juga berencana untuk merilis Samurai Bond pada semester I ini. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved