Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RUPIAH terus melemah. Kemarin sore, mata uang garuda berada di level 14.043 per dolar AS atau di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yakni 13.400 per dolar AS.
Namun, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara meyakinkan kondisi itu tak mengganggu APBN. Dia menjelaskan pelemah-an nilai tukar rupiah meningkatkan penerimaan dan pengeluaran negara. Namun, menurut perhitungan institusinya, dampaknya lebih besar ke penerimaan negara.
"Yang kami dapatkan itu penerimaan di APBN lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengeluarannya karena nilai tukar," kata dia di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, kemarin.
Suahasil mengatakan, dengan asumsi kenaikan kurs 100 per dolar AS, berpotensi surplus dengan meningkatnya pendapatan negara Rp3,8 triliun-Rp5,1 triliun.
Untuk diketahui, melonjaknya nilai tukar antara lain akan memengaruhi penerimaan terkait dengan aktivitas perdagangan internasional, seperti pajak penghasilan (PPh) impor, pajak pertambahan nilai (PPN) impor, bea masuk dan bea keluar. Selain itu, mendongkrak penerimaan PPh minyak dan gas bumi (migas) serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam (SDA).
Di sisi lain, hal itu juga akan meningkatkan belanja negara sebesar Rp2,2 triliun-Rp3,4 triliun. "Dari penerimaan yang kita dapatkan, jelas itu lebih tinggi daripada pe-ngeluarannya," ujar Suahasil.
Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah dan juga mata uang Asia lainnya berfluktuasi. Hal itu karena situasi geopolitik maupun ekonomi dunia yang tak menentu, terutama isu perang dagang AS dan Tiongkok.
Menurut Suahasil, pemerintah tetap perlu mencermati dampak pergerakan kurs pada situasi ekonomi secara keseluruhan, baik tingkat inflasi, neraca keuangan badan usaha milik negara (BUMN), maupun kondisi masyarakat.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan melemahnya nilai tukar yang menyentuh 14.000 jangan cuma dilihat dari angkanya, tapi pada persentasenya yang hanya terdepresaisi 0,4%. Angka itu, menurutnya, masih di bawah baht (Thailand) dan peso (Filipina) yang masing-masing terdepresiasi 0,7% dan 0,5%. "Tekanan dari eksternal (AS) masih dominan memengaruhi pelemahan di banyak mata uang negara maju dan berkembang," ujar Dody, kemarin.
Menurut dia, BI akan akan terus mencermati kondisi makro, memperkuat second line of defense, dan akan membuka ruang penyesuai-an suku bunga jika pelemahan terus berlanjut dan berdampak pada instabilitas moneter.
Wakil Presiden Jusuf Kalla dan juga kalangan pengusaha menilai melemahnya nilai tukar justru jadi momentum untuk mendo-rong ekspor dan logistik nasional agar tidak kalah bersaing dengan negara lain. Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan pihaknya akan mendorong anggotanya meningkatkan ekspor berbagai komoditas nonmigas serta mendorong perbaikan logistik.
"Memang akan terjadi kenaikan harga-harga bahan baku impor, tetapi itu bisa diselesaikan dengan mendorong orang untuk produksi dalam negeri sebagai akibat impor yang mahal," kata Kalla di Istana Wapres, Selasa (8/5).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved