Ketahanan Rupiah masih Terjaga

Tesa Oktiana Surbakti
05/5/2018 04:40
Ketahanan Rupiah masih Terjaga
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PEMERINTAH menyikapi serius pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Bahkan, untuk menguji ketahanan rupiah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan tes tekanan (stress test) hingga level Rp20 ribu per dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan stress test atau uji ketahanan nilai mata uang rupiah terhadap dolar hingga Rp20 Ribu merupakan hal yang lumrah dilakukan. Darmin menjelaskan, pada dasarnya stress test digunakan untuk melihat titik lemah keuangan negara. "Kalau stress test boleh-boleh saja. Stress test sebenarnya gunanya sampai berapa kita mulai bermasalah (dari tekanan rupiah). Tidak berarti dia (OJK) ingin (rupiah) segitu," ujar Darmin saat ditemui di kantornya, Jumat (4/5).

Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengkhawatirkan pelemahan rupiah. Sebabnya, pelemahan tersebut juga terjadi pada mata uang negara lain.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Dollar Rate (Jisdor), perdagangan rupiah per 4 Mei 2018 berada di level Rp13.943 per dolar AS. Menurut Darmin, level yang dicapai seharusnya bisa sedikit lebih rendah. "Tapi ya memang situasinya masih (penuh tekanan). Kalau seluruh dunia kena (dampak pelemahan kurs), jangan terlalu dibesar-besarkan. Melemahnya ya sama saja sebulan terakhir. Mau negara mana pun mengalaminya," tegasnya.

Investor setia
Bank Indonesia mengungkapkan arus investasi jangka pendek yang keluar sementara (hot money) dalam beberapa pekan terakhir diyakini akan kembali ke pasar saham dan obligasi Indonesia karena imbal hasil dan fundamen ekonomi domestik lebih menarik. "Investor masih setia. Kami meyakini penyesuaian portofolio oleh asing akan selalu kembali ke Indonesia seperti pengalaman-pengalaman outflow sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah di Jakarta, kemarin.

Nanang mengakui memang ada dana keluar (outflow) dalam beberapa pekan terakhir, terutama dipicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, Treasury Bill tenor 10 tahun, yang bergerak di kisaran 2,9%-3%. Namun, dia enggan merinci berapa jumlah dana yang keluar tersebut maupun portofolio investasi tersebut.

Saat ini imbal hasil SUN bertenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,9 %. Angka itu, menurutnya, jauh lebih tinggi daripada negara-negara emerging markets lain. "Dengan yield yang menarik, itu akan membuat Indonesia lebih menarik. Tantangannya adalah bagaimana investor tetap terus di Indonesia. Caranya adalah memastikan kebijakan moneter dan fiskal Indonesia ini kredibel dan konsisten," ujarnya.

Sementara itu, kemarin, Bank Indonesia bersama dengan Kementerian Keuangan Jepang secara prinsip menyepakati rencana amendemen kerja sama Bilateral Swap Arrangement (BSA). Substansi amendemen ini bertujuan memperkuat jaring pengaman keuangan internasional sebagai salah satu policy tools menjaga dan memelihara stabilitas nilai tukar rupiah.

(Try/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya