Cadangan Devisa masih Cukup Atasi Gejolak Rupiah

Fetry Wuryasti
03/5/2018 01:30
Cadangan Devisa masih Cukup Atasi Gejolak Rupiah
(MI/MOHAMAD IRFAN)

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyampaikan jumlah cadangan devisa hingga akhir April 2018 masih mencukupi untuk menahan gejolak nilai tukar rupiah meskipun tekanan arus modal keluar cukup kencang yang dipicu sentimen dari dinamika perekonomian Amerika Serikat.

"Indonesia tidak panik. Kami yakinkan kita punya devisa yang cukup untuk jaga ekonomi kita," ungkap Agus di sela Festival Ekonomi Syariah Regional di Semarang, Jawa Tengah, kemarin, sebagaimana dikutip dari Antara.

Pernyataan Agus tersebut untuk merespons kembali melemahnya nilai tukar rupiah. Kemarin sore, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank bergerak melemah sebesar 31 poin menjadi 13.944 dari posisi sebelumnya 13.913 per dolar AS.

Rupiah melemah awal pekan ini karena pelaku pasar berkeyakinan inflasi di AS akan meningkat pada beberapa bulan mendatang. Pasalnya, biaya bahan baku di 'Negeri Paman Sam' meningkat dan juga beberapa indikator inflasi di AS menunjukkan laju inflasi yang semakin mendekati target bank sentral Federal Reserve sebesar 2,0%.

Hingga akhir Maret 2018, cadangan devisa Indonesia sebesar US$126 miliar atau turun US$2,06 miliar dari jumlah pada Februari 2018. Salah satu penyebab penurunan devisa tersebut ialah untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di pasar.

BI akan mengumumkan cadangan devisa hingga April 2018 pada 8 Mei 2018. Selain devisa yang mencukupi, Agus mengatakan BI juga sedang memperkuat kerja sama dengan sesama kolega bank sentral di negara-negara lain untuk memperkuat ketahanan lapis kedua perekonomian (second line of defense) agar mampu menjamin ketersediaan likuiditas valuta asing.

Saat ini, BI memiliki second line of defense dalam bentuk kemitraan bilateral untuk menjaga likuiditas valas melalui swap atau billateral currency swap agreement (BCSA) dan dalam cakupan mutilateral seperti Chiang Mai Initiative Multilateralisation.

"Kita juga punya hubungan dengan bank-bank sentral mitra kerja kita untuk sama-sama menjaga likuiditas," jelas Agus.

Penyesuaian
Pada kesempatan itu, Agus kembali menekankan arah kebijakan moneter BI saat ini, yakni membuka peluang untuk penyesuaian suku bunga acuan 7-day reverse repo rate jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan mengganggu stabilitas sistem keuangan.

"Rupiah memang ada tekanan dalam dua pekan terakhir karena tekanan ekonomi eskternal, tetapi begitu juga mata uang negara-negara lain. Pelemahan rupiah 0,88% sejak 1 hingga 26 April 2018 (month to date/mtd). Negara-negara lain bahkan melemah lebih dalam dari itu," tukas Agus.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menambahkan pihaknya akan melakukan penyesuaian suku bunga apabila tekanan telah menyentuh stabilitas sistem ekonomi, seperti inflasi salah satunya.

"Bahwa penyesuaian suku bunga akan dilakukan jika BI melihat perkiraan nilai tukar ke depan yaitu tekanan yang berlanjut akan menganggu stabilitas sistem ekonomi kita. Dengan begitu, room penyesuaian suku bunga akan dilakukan," ungkap Dody saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

(E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya