Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI dibayangi sejumlah tekanan, baik domestik maupun global, kondisi keuangan dalam negeri tetap stabil. Hal tersebut ditopang fundamen ekonomi yang kuat, kinerja lembaga keuangan yang membaik, serta kinerja emiten di pasar modal yang stabil.
Demikian kesimpulan rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Senin (30/4). Kesimpulan KKSK tersebut berdasarkan penilaian terhadap perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar surat berharga negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan nonbank, dan penjaminan simpanan.
Menurut Sri Mulyani, fundamen ekonomi pada triwulan I 2018 tetap kuat tecermin dari tingkat inflasi yang terjaga sesuai target sebesar 3,5±1%. Demikian pula dengan kondisi APBN yang terus terjaga dengan defisit anggaran dan defisit keseimbangan primer yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan triwulan I 2017. “Realisasi penerimaan PPN tumbuh sebesar 15,03% dan penerimaan PPh nonmigas tumbuh sebesar 20,12% tanpa tax amnesty. Momentum pertumbuhan ekonomi terus berlanjut dengan konsumsi, investasi, dan ekspor yang masih terus terjaga,” ujarnya.
Terkait dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terjadi akhir April lalu, menurut Sri, lebih disebabkan faktor eksternal berupa penguatan mata uang dolar Amerika Serikat terhadap hampir semua mata uang dunia.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan penguatan dolar AS itu didorong berlanjutnya kenaikan yield US Treasury (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03% (tertinggi sejak 2013) dan potensi kenaikan Fed funds rate lebih dari tiga kali.
Oleh karena itu, KSSK akan terus bersinergi dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) lain untuk menyikapi kondisi eksternal yang semakin dinamis, terutama terkait dengan polemik perang dagang antara AS dan Tiongkok serta kondisi geopolitik di sejumlah kawasan.
Kinerja perbankan
Dalam rapat KSSK itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan kinerja lembaga keuangan dalam kondisi baik, tecermin antara lain dari pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang ber-angsur pulih serta likuiditas yang masih memadai. Kemampuan bank untuk menyerap risiko, kata dia, juga masih mumpuni, tecermin pada rasio CAR yang menunjukkan permodalan yang kuat sebesar 22,67%.
“Perlu digarisbawahi permodalan perbankan di Indonesia lebih tinggi daripada negara lain. Dengan stress testing apa pun, dengan berbagai metodologi, perbankan kita tetap resilience (tahan),” tegas Wimboh.
Stabilitas sistem perbankan juga diakui ekonom Bank Permata, Josua Pardede. Kendati demikian, kata dia, ada hal yang perlu dicermati, antara lain pertumbuhan kredit perbankan yang cenderung prosiklikal dengan pertumbuhan ekonomi. Begitu juga posisi utang luar negeri (ULN) korporasi nonbank yang relatif tinggi.
“BI cenderung akan mengintervensi dan berhati-hati dalam penyesuaian suku bunga kebijakan hingga akhir tahun ini. Mereka juga akan memperkuat first line of defense dalam hal capital management dengan terus memperkuat cadangan devisa,” paparnya. (Tes/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved