Industrialis Masih Waspadai Pelemahan Rupiah

Tesa Oktiana Surbakti
01/5/2018 15:26
Industrialis Masih Waspadai Pelemahan Rupiah
(ANTARA)

PELEMAHAN nilai tukar rupiah masih harus diwaspadai seiring belum redanya tekanan dari faktor global. Hal itu pun disadari para pelaku usaha dengan menekankan urgensi penguatan daya saing agar sektor industri tumbuh positif.

"Pelemahan rupiah sampai sejauh ini masih kita sikapi dengan waspada. Karena "trend"-nya di dunia itu dolar Amerika Serikat (AS) memang menguat. Jadi tidak hanhya rupiah saja yang terkenda (dampak)," ujar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani saat dihubungi, hari ini.

Sebelumnya, hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan sistem keuangan nasional sepanjang triwulan I 2018 dalam kondisi stabil dan terkendali. Menyoroti tekanan pada nilai tukar rupiah tidak lepas dari dampak penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang global.

Penguatan dolar AS dipicu kenaikan suku bunga obligasi AS (yield US Treasury) hingga 3,03 persen, maupun potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali pada 2018. Shinta memandang apabila faktor eksternal dapat dimitigasi faktor internal, maka tekanan risiko global dapat diminimalisir.

Dalam hal ini dia menggarisbwahi pertumbuhan sektor industri manufaktur yang mana porsi terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun di level 20,1 persen. Dengan pertumbuhan rata-rata industri manufaktur sebesar 4,27 persen, peranan terhadap penyerapan tenaga kerja di Tanah Air dikatakannya mencapai 20 persen.

"Selain itu, saat ini banyak bahan baku industri kita yang masih bergantung pada impor. Terlebih merujuk "Purchasing Manager's Index" Indonesia trennya terus turun. Hal ini mengindikasikan bahwa produk kita kalah saing dengan negara lain, sehingga mengakibatkan permintaan produksi menurun," imbuh dia.

Menurutnya, sektor industri nasional perlu direvitalisasi agar semakin unggul di tengah ketatnya persaingan global. Dia pun mengapresiasi langkah pemerintah meluncurkan peta jalan "Making Indonesia 4.0" dalam rangka mempercepat implementasi era industri baru yang identik dengan digitalisasi dan robotik. Apindo, lanjut Shinta, turut meminta pemerintah untuk mendorong kualitas sumber daya manusia (SDM) agar sesuai dengan kebutuhan industri.

"Kami juga ingin agar pemerintah lebih meningkatkan iklim investasi yang sudah mulai membaik. Ini melalui perbaikan regulasi dan negosiasi perdagangan bebas," tukasnya.

Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, Bank Indonesia mengimbau korporasi untuk meningkatkan rasio lindung nilai (hedging) terhadap transaksi dan kewajiban valuta asing dalam rangka mencegah kerugian selisih kurs. Terkait imbauan Bank Sentral, Shinta menuturkan sudah banyak industri yang memanfaatkan fasilitas hedging. Mayoritas merupakan industri berskala besar yang berhubungan dengan kegiatan ekspor dan memiliki pinjaman dengan referensi dolar AS.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya