Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRIALIS di sektor makanan dan minuman berharap pelemahan nilai tukar Rupiah tidak berlarut-larut. Mengingat, bahan baku untuk kebutuhan produksi masih bergantung pada impor yang transaksinya mengacu kurs dolar Amerika Serikat (AS).
"Kita harus waspada. Kalau (pelemahan Rupiah) terus menerus terjadi akan berpengaruh terhadap harga pokok, biaya produksi dan biaya distribusi. Karena semua tergantung dolar AS. Apalagi industri makanan dan minuman bahan bakunya sebagian besar masih impor," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman, hari ini.
Adhi tidak menampik depresiasi kurs yang terjadi belakangan ini mulai mendorong kenaikan biaya produksi. Dia mencontohkan bahan baku komoditas gula bahkan 100 persen impor. Sedangkan bahan baku komoditas kedelai memiliki proporsi impor 70 persen dalam struktur produksi.
Kendati demikian, Adhi memastikan pelaku usaha di sektor industri makanan dan minuman tidak akan menaikkan harga setidaknya sampai Bulan Ramadhan berlalu. Mengingat industrialis memiliki rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) yang sudah mempertimbangkan ketersediaan stok dari pemasok. Sehingga, pelemahan nilai tukar Rupiah tidak serta merta mendorong industrialis menaikkan harga jual produk di tengah masyarakat.
"Yang jelas sampai Lebaran, harga dan stok masih aman. Kita "support" pemerintah untuk jaga stabilitas harga dan inflasi. Lagipula industri makanan dan minuman punya perencanaan tahunan. Kita punya kontrak baik (dengan) "supplier" dan pembeli di luar negeri. Industri punya stok bahan bau biasanya satu bulan, kemudian stok barang jadi kira-kira untuk satu bulan juga, begitu juga dengan stok di pasar. Ini kan baru dua mingguan ya pelemahan (rupiah) ini, mudah-mudahan tidak berkelanjutan terus," jelas Adhi.
Lebih lanjut dia menekankan apabila pelemahan kurs Rupiah berlanjut hingga tembus level Rp 14.000 per dolar AS, maka pihaknya sulit menahan potensi perubahan harga produk lantaran biaya produksi membengkak.
"Maksimum di Rp 14.000 per dolar AS saja, jangan sampai melebihi. Di batasan itu kami masih bisa me-"manage" supaya tidak terlalu berpengaruh terhadap harga pokok dan harga jual. Maka dari itu kami minta pemerintah dan Bank Indonesia bisa menjaga stabilitas jangan sampai bergejolak di atas Rp 14.000 per dolar AS," tukasnya.
Ketika depresiasi rupiah terlalu dalam, Adhi mengungkapkan dampaknya akan mempengaruhi kenaikan biaya produksi sekitar 3-5 persen. Untuk industri yang mayoritas bahan bakunya bersumber dari impor mungkin bisa lebih tinggi lagi. Konsekuensinya, industrialis mau tidak mau melakukan perubahan harga jual produk sebagai kompensasi naiknya biaya produksi.
"Kalau ini (pelemahan rupiah) terus menerus terjadi, habis Lebaran baru evaluasi. Karena masa puasa dan Lebaran ini masa kritis. Biasanya kita tidak merubah harga, karena memanfaatkan stok yang ada dulu. Mudah-mudahan (pelemahan rupiah) tidak berlanjut. Kalau berlanjut terus, terpaksa ada perubahan harga (jual produk)," tutupnya.(OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved