Pasar tidak Perlu Panik meski Rupiah Menukik

Fetry Wuryasti
25/4/2018 02:45
Pasar tidak Perlu Panik  meski Rupiah Menukik
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

MELEMAHNYA nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak perlu dikhawatirkan. Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo mengatakan, sejak awal tahun, tren pelemahan rupiah dan juga mata uang lainnya di beberapa negara telah mulai terlihat.

Tren pelemahan itu, baik yang dipicu gejolak global seperti dampak kenaikan suku bunga AS maupun kekhawatir­an perang dagang AS-Tiongkok, juga yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik terkait dengan kebutuhan pembayaran impor maupun utang, biasanya cenderung meningkat pada triwulan II. ”Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” ujarnya.

Senin (23/4) lalu, misalnya, BI telah mengintervensi, baik di pasar valas maupun pasar SBN (surat berharga negara) dalam jumlah cukup besar. Berkat upaya tersebut, rupiah yang pada Jumat (20/4) sempat terdepresiasi sebesar -0,70% hanya melemah -0,12% pada Senin sore lalu, lebih rendah daripada depresiasi yang dialami mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya, seperti peso Filipina 0,32% dan bath Thailand -0,57%.

Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah yakin intervensi yang dilakukan BI di pasar uang akan mampu mengembalikan rupiah di nilai fundamental, yakni 13.800 per dolar AS. ”Perkiraan saya (nilai fundamental) mentok di Rp13.800 per dolar AS,” ujar Piter di Jakarta, Selasa (24/4).

Ia yakin pelemahan rupiah tidak akan melebihi 14 ribu per dolar AS karena cadangan devisa BI yang lebih dari cukup. Diketahui, cadev BI saat ini sebesar US$126 miliar. Cadev BI tersebut setara 7,9-7,7 bulan impor, atau berada di atas kecukupan internasional sebanyak 3 bulan impor. ”Kalau berkurang bahkan US$20 miliar, no problem,” ungkapnya.

Langkah alternatif
Intervensi BI tersebut menurutnya penting untuk menjaga keyakinan pasar dan menghindari kepanikan. ”Sehingga bulan depan pada saat menjelang The Fed memutuskan menahan atau menaikkan suku bunganya, pasar tidak panik lagi,” tukasnya.

Selain mengintervensi pasar, kata Piter, ada langkah lainnya yang bisa ditempuh BI yakni melalui capital flow management. Kebijakan tersebut, menurutnya, bisa dilakukan BI jauh-jauh hari untuk meng­antisipasi pelemahan rupiah akibat keluarnya dana asing (capital outflow). Caranya dengan mengatur agar dana asing yang masuk ke Indonesia, khususnya SBN, tidak seenaknya keluar ketika dolar AS menguat. ”Kalau asing mau beli SBN, harus ada aturan main semisal boleh beli dan boleh dijual setelah enam bulan, ada holding period atau aturan pembatasan bisa masuk tapi kalau keluar harus ada syaratnya, bahkan di Tiongkok kalau beli (SBN) tidak boleh keluar, harus sampai selesai (tenor),” jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai melemahnya nilai tukar rupiah akhir-akhir ini bukanlah sebuah bencana besar. ”Ekonomi kan fleksibel, kita selalu bisa beradaptasi. Yang penting masyarakat tidak panik, pemerintah tidak panik. Kepanikan hanya akan memperburuk situasi,” ujarnya, saat ditemui seusai Musyawarah Nasional Apindo di Jakarta, Selasa (24/4).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini gejolak pasar bersifat temporer. Pada akhirnya, pergerakan kurs akan kembali normal. (Nyu/Pra/Tes/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya