Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
POTENSI energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia dari tenaga air sangat berlimpah dan mampu menghasilkan 75 ribu megawatt (MW) namun baru bisa dinikmati hanya 7%. Hal itu akibat sumber energi hijau berada jauh dari kawasan industri.
Supaya anugerah alam yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca serta menjaga tarif listri murah itu mampu dioptimalkan maka perlu segera digarap. Langkahnya dengan mendekatkan demand seperti pusat industri dengan sumber EBT.
"Yang perlu dilakukan untuk menikmati anugerah alam berupa EBT dari sektor tenaga air yang memiliki sumber energi sekitar 75 ribu MW dengan melakukan pendekatan demand creation. Itu berarti pemerintah perlu membangun wilayah industri baru di tempat-tempat sumber EBT seperti yang telah dilakukan Malaysia," terang Senior Advisor Andritz Hydro, Adhi Satriya di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, pemanfaatan energi ramah lingkungan terkendala jarak. Sumber EBT di Indonesia berjarak sangat jauh dengan wilayah industri sehingga potensi besar EBT kurang dirasakan dan lebih memilih energi fosil sebagai sumber energi listrik.
Padahal, kata dia, kondisi yang sama juga dialami negara lain. Jangan jauh-jauh, sebut saja Malaysia yang juga memiliki potensi EBT namun berjauhan dengan titik permintaan. Tetapi, negeri ziran itu tidak kehabisan akal. Mereka membangun pusat industri lengkap dengan infrastruktur berdekatan dengan sumber EBT.
"Ini bukan angan-angan atau mimpi. Ada PLTA yang skala besar kemudian pemerintah menyediakan industrial complex jadi datang investor industri dan pembangkit. Jadi solusi pemanfaatan EBT ini dengan membangun permintaan lengkap dengan infrastrukturnya,"tuturnya.
Ia mengatakan, konsep serupa sudah diilhami PT ndonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang memiliki pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Langkah ini sangat visioner karena menunjukan kemandirian melalui pemanfaatan EBT.
"Investasi EBT memang besar di awal, berbanding terbalik dengan fosil tetapi hasilnya jauh berbeda baik terhadap alam, maupun tarif. EBT akan menjaga lingkungan tetap lestari serta tarif yang murah seiring berjalannya waktu dan energi fosil sebaliknya ditambah ketidakpastian harga batu bara, minyak serta gas. Ini yang harus terus disadarkan terkhusus pemerintah," tutupnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved