Digitalisasi Topang PDB pada 2027

Erandhi Hutomo Saputra
19/4/2018 03:45
Digitalisasi Topang PDB pada 2027
( ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

SALAH satu lembaga keuangan terbesar di dunia, Morgan Stanley, memperkirakan Indonesia akan memiliki nilai ekonomi sebesar US$2,7 triliun pada 2027 dengan kapitalisasi pasar sebesar US$1,5 triliun. Menurut mereka, digitalisasi mungkin akan menjadi faktor kunci pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) tersebut.

Analis Morgan Stanley, Sean Gardiner, mengatakan hal itu dipicu kegiatan e-commerce yang berkontribusi sekitar 19% dari aktivitas retail pada 2027. Pada tahun tersebut, dia memperkirakan pengunaan uang elektronik di Indonesia akan meningkat 24% dari sekitar 2% pada 2017. “Pembangunan ekonomi digital bersamaan dengan infrastruktur dan pasar yang berskala besar akan membuat Indonesia lebih relevan bagi investor asing,” ungkap Sean dalam rilisnya, Rabu (18/4).

Menurut lembaga itu, investasi di bidang infrastruktur, termasuk jalan dan telepon, merupakan bagian dari upaya meningkatkan konektivitas. Bahkan, tantangan dalam pengiriman barang atau jasa telah bisa diatasi menggunakan teknologi digital, misalnya layanan Go-Jek untuk mengirimkan paket. “Modal sedang dikerahkan ke ekosistem startup dengan empat unicorn domestik yang sudah mapan dengan investasi sebesar US$8 miliar selama 26 bulan terakhir,” demikian kata lembaga tersebut.

Namun, Morgan Stanley melihat pertumbuhan e-commerce yang marak ini akan menganggu ekonomi konvensional di Tanah Air. Menurutnya, Indonesia akan mengalami disrupsi dari return of equity (ROE) yang tinggi dan terganggunya ekuitas pasar ekonomi konvensional sehingga dapat menambah beban risiko penerimaan dari konsumen yang rapuh dan lambatnya pertumbuhan kredit.

Peta jalan
Saat menanggapi perkiraan Morgan Stanley itu, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti, mengatakan pemerintah mendukung perkembangan ekonomi digital termasuk e-commerce di Indonesia. Salah satunya dengan penerbitan peta jalan e-commerce pada pertengahan tahun lalu. “Juga dapat dilihat dari adanya pengembangan sekolah-sekolah vokasi yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan juga pemberian insentif perpajakan kepada bisnis TIK,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (18/4).

Dukungan pemerintah terhadap ekonomi digital, lanjut dia, juga dilakukan melalui skema tax holiday yang baru dikeluarkan pemerintah kepada 17 jenis industri. Dari 17 jenis industri tersebut, beberapa di antaranya berhubungan dengan industri teknologi informasi, antara lain industri pembuatan semikonduktor dan komponen utama komputer lainnya, industri pembuatan peralatan komunikasi, dan industri pembuatan komponen robotik.

“Selain itu, pemerintah memberikan insentif perpajakan kepada perusahan modal ventura yang berinvestasi ke perusahaan rintisan atau startup,” tukasnya. Soal kekhawatiran pelaku UMKM yang berjualan di marketplace terhadap rencana pengenaan pajak, Nufransa meminta para pelaku e-commerce tak khawatir. “Pemerintah akan melihat seluruh aspek dan dampak perpajakannya sehingga terdapat perlakuan yang adil antara pelaku bisnis e-commerce dan pelaku bisnis konvensional,” pungkasnya. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya