Ekspor Komoditas perlu Ditingkatkan

(Pra/E-2)
18/4/2018 03:00
Ekspor Komoditas perlu Ditingkatkan
(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

NERACA perdagangan selama Maret 2018 mengalami surplus sebesar US$1,09 miliar. Membaiknya neraca perdagangan itu terutama ditopang ekspor komiditas (nonmigas), khususnya industri pengolahan seperti besi baja, tekstil, dan konveksi. Agar surplus berlanjut, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, kelak, pemerintah harus mendorong ekspor komoditas karena saat ini permintaan global sedang membaik.

“Konflik AS di Suriah bisa membawa harga minyak mentah menembus US$80 per barel dan otomatis meng­angkat harga CPO serta batu bara. Momentum ini jangan sampai dilewatkan,” ujarnya, Selasa (17/4). Selain meningkatkan eks­por komoditas, kata dia, pemerintah harus melebarkan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional seperti Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara muslim. “Karena sumbangan ekspor mencapai 20% terhadap PDB, harapannya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 akan mencapai 5%,” tuturnya.
Berdasarkan data Gabung­an Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), misalnya, ekspor CPO (crude palm oil) ke negara-negara Afrika tumbuh 50% dari 1,52 juta ton pada 2016 menjadi 2,29 juta ton di 2017.

Kenaikan 7% juga terjadi ke negara Timur Tengah, dari 1,98 juta ton pada 2016 menjadi 2,12 juta ton pada tahun selanjutnya. Selain mengandalkan CPO, Bhima mengatakan produk lain yang berpotensi besar ke pasar nontradisional ialah otomotif dan suku cadang kendaraan. “Khususnya mobil sedan ke Timur Tengah, pasarnya masih besar. Ada juga alas kaki dan tekstil,” ucapnya.

Selain itu, kata Bhima, beberapa upaya lain yang harus dilakukan pemerintah ialah dengan menjaga stabilitas kurs. Menurutnya, hal itu memiliki efek cukup besar ke peningkatan biaya impor, terlebih jelang Ramadan dan Lebaran ketika impor barang konsumsi selalu naik. “Pemerintah juga harus memperbesar insentif untuk mendorong ekspor barang jadi bernilai tambah sehingga nilai eks­pornya tetap stabil kendati terjadi instabilitas dalam ekonomi global,” tandasnya. (Pra/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya