Industri Olahan Dominasi Ekspor

Tesa Oktiana Surbakti
17/4/2018 15:05
Industri Olahan Dominasi Ekspor
(ist)

SETELAH dua bulan defisit, neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2018 mengalami surplus sebesar US$1,09 miliar. Membaiknya neraca perdagangan itu terutama ditopang ekspor nonmigas, khususnya industri pengolahan seperti besi baja, tekstil, dan konveksi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas pada Maret 2018 berkontribusi hingga 91,41% dari total ekspor nasional dengan nilai US$14,24 miliar.

Menurut BPS, total kumulatif neraca perdagangan periode Januari-Maret 2018 juga turut mengalami surplus US$0,28 miliar. "Tentu ini menggembirakan bahwa surplus terjadi karena dua bulan sebelumnya terjadi defisit. Begitu juga secara kumulatif Januari-Maret 2018, neraca perdagangan surplus US$0,28 miliar," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/4).

Berdasarkan data BPS, kinerja ekspor periode Maret 2018 mencapai US$15,58 miliar atau naik 10,24% jika dibandingkan dengan Februari 2018 yang sebesar US$14,13 miliar. Bila dibandingkan dengan eks-por Maret 2017 yang sebesar US$14,68 miliar, kinerja ekspor Maret tahun ini naik 6,14% (lihat grafik).

Menurut Suhariyanto, kinerja ekspor komoditas yang mengalami kenaikan ialah batu bara dan bijih tembaga. Di satu sisi, ekspor industri pengolahan yang berkontribusi hingga 71,75% dalam struktur ekspor nasional juga mengalami pertumbuhan sebesar 9,17% menjadi US$11,18 miliar. Beberapa komoditas yang mendorong kinerja ekspor industri peng-olahan ialah besi dan baja, tekstil, dan konveksi.

"Jika dibandingkan dengan 2017, memang jauh. Tapi pada Maret 2018 ini jauh lebih baik daripada dua bulan sebelumnya. Diharapkan, ekspor makin bagus untuk ke depannya," kata Suhariyanto.

Menurut pria yang akrab disapa Kecuk itu, struktur pangsa pasar ekspor nonmigas sejauh ini belum mengalami perubahan signifikan. Dalam neraca perdagangan periode Januari-Maret 2018, negara tujuan ekspor nonmigas masih didominasi Tiongkok dengan kontribusi 15,77% atau senilai US$6,43 miliar, disusul Amerika Serikat yang memiliki andil 11% atau senilai US$4,42 miliar dan Jepang yang berkontribusi 10,15% dengan nilai US$4,08 miliar.

Ekspor dan investasi

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa ekspor dan investasi menjadi kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dia pun menargetkan untuk kinerja ekspor nonmigas pada tahun ini naik sebesar 11%.

Enggar mengatakan penetapan target pertumbuhan ekspor nonmigas itu dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja ekspor Indonesia di 2017 yang mencapai US$168,7 miliar atau tumbuh 16,2% ketimbang tahun sebelumnya. "Kunci pertumbuh-an ekonomi Indonesia ialah ekspor dan investasi. APBN merupakan stimulasi," kata Enggar dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip Antara, Sabtu (14/4).

Pemerintah, kata Enggar, terus berupaya meningkatkan ekspor barang bernilai tambah tinggi. Saat ini pemerintah juga gencar membuka pasar ekspor nontradisional sesuai amanat Presiden Joko Widodo. Salah satu pasar ekspor nontradisional yang dinilai cukup potensial ialah negara-negara di kawasan Afrika dan Amerika Latin. Untuk wilayah Afrika, pemerintah sepakat segera memulai perundingan preferential trade agreement (PTA) dengan tiga negara, yaitu Mozambik, Tunisia, dan Maroko.

(E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya