Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Dunia menyebutkan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik diperkirakan akan tetap kuat dan mencapai 6,3% pada 2018. Namun, ada risiko yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti dengan penerapan kebijakan di negara terkait.
"Dibutuhkan langkah meredam kemungkinan dampak pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat di negara maju sekaligus meningkatkan prospek pertumbuhan jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian kebijakan, terutama terkait perdagangan global," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty saat jumpa pers di Jakarta, kemarin.
Sudhir mengatakan hal itu saat merilis World Bank East Asia dan Pacific Economic Update edisi April 2018, Enhancing Potential.
Menurut Sudhir, negara-negara di kawasan tersebut perlu mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter dan memperkuat peraturan makroprudensial. "Ini sangat penting, terutama bagi negara dengan tingkat utang yang tinggi atau pertumbuhan kredit yang cepat karena ada risiko kerentanan pada sektor keuangan apabila suku bunga di negara maju dinaikkan," katanya.
Pada Maret 2018, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga jangka pendek 25 basis poin dan diperkirakan masih ada kenaikan sebanyak tiga kali lagi.
Kendati The Fed menaikkan suku bunga mereka, Bank Indonesia masih mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day reverse repo rate di level 4,25%.
"Saat ini negara-negara kawasan kelihatannya siap untuk menaikkan suku bunga acuannya. Ruang untuk pelonggaran moneter tampaknya sudah tidak ada lagi," ujar Sudhir.
Ekonomi RI 2018 naik
Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 akan lebih baik ketimbang tahun sebelumnya, yakni meningkat 5,3%. "Kita prediksi (pertumbuhan ekonomi) Indonesia di 2018 itu 5,3% , naik dari 5,1% di 2017. Itu termasuk karena investasi sangat kuat," ujar Ekonom Senior Bank Dunia, Derek Chen, saat mendampingi Sudhir, kemarin.
Selain investasi, lanjut dia, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebanyak itu pada 2018 berasal dari konsumsi masyarakat, termasuk momentum belanja untuk pilkada serentak. Gelaran pesta demokrasi itu akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi, bukan sebaliknya seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak.
"Kami melihat konsumsi RT akan naik sedikit seiring dengan adanya pemilu. Sekarang, investor mungkin sedang menunggu apa yang akan terjadi di 2018 dan 2019 dan berasumsi tidak terlalu mengejutkan," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati mengatakan laju kegiatan usaha pada triwulan I 2018 lebih cepat jika dibanding triwulan IV 2017.
Hal itu berdasarkan survei yang digelar terhadap kegiatan dunia usaha dan hasil lainnya, yakni ekspansi kegiatan usaha akan terus berlanjut pada triwulan II 2018. "Kegiatan usaha di triwulan I (2018) lebih baik jika dibanding triwulan IV (2017). Pasalnya, terjadi ekspansi usaha lebih baik dari 7,4% menjadi 8,2%. Ini mengindikasikan kegiatan usaha di triwulan I lebih baik jika dibanding sebelumnya," katanya.
Menurut dia, geliat ekonomi terjadi lebih tinggi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan, serta industri pengolahan.(Ant/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved