Pusat Perbelanjaan Perkaya Hiburan dan Kuliner

Ghani Nurcahyadi
13/4/2018 03:30
Pusat Perbelanjaan Perkaya Hiburan dan Kuliner
(MI/ROMMY PUJIANTO)

MENDATANGI pusat perbelanjaan bagi Dania, 29, bukan cuma untuk berbelanja. Bersama dengan suami dan kedua anaknya, mal kerap menjadi tempat untuk berlibur keluarga di akhir pekan. Karena itu, Dania yang berdomisili di Bintaro, Tangerang Selatan, sangat selektif dalam memilih mal yang akan dikunjungi.

"Minimal harus ada halaman yang luas atau area bermain anak dalam mal tersebut. Kemudian, pilihan makanan yang banyak dan beragam sehingga sekaligus sebagai tempat istirahat buat anak-anak setelah bermain," urai Dania yang ditemui di pusat perbelanjaan daerah Bintaro, dua pekan lalu.

Hasrat Dania untuk menjumpai mal yang menyuguhkan banyak hiburan di samping jajaran toko retail akan semakin terakomodasi ke depan. Hal itu karena saat ini sejumlah mal mulai bertransformasi dari sekadar area belanja menjadi pusat hiburan dan kuliner.

Kedua hal tersebut diakui Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan menjadi hal yang penting di era perubahan perilaku konsumen saat ini. Mal diharapkan mampu menghadirkan pengalaman baru melalui berbagai ajang atau justru membuat tempat khusus demi memuaskan pengunjungnya.

"Sekarang pengunjung lebih senang mencari tempat yang bagus untuk ber-swafoto. Pusat perbelanjaan bisa ikut menyediakan hal tersebut. Saat ini banyak pusat perbelanjaan yang mulai melakukan perubahan seperti itu," kata Ridwan di sela-sela Rapat Kerja Nasional APPBI di Jakarta, kemarin.

Ia mengutip data yang dikeluarkan salah satu bank swasta di Indonesia bahwa mal yang sudah melakukan transformasi yang mendukung gaya hidup masyarakat mengalami kenaikan pengunjung hingga 29%. Sebaliknya, mal yang hanya menampilkan deretan retail justru mengalami kemerosotan pengunjung hingga 59%.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, saat ini gelombang transformasi dari pusat perbelanjaan sudah terlihat. Hal itu setidaknya tampak dari variasi tenant dalam mal yang mulai mengarah terhadap pemenuhan gaya hidup masyarakat.

"Contohnya, mulai banyak tenant di kategori makanan dan minuman. Kami selalu mengampanyekan agar mal tidak menyerah di era maraknya perdagangan elektronik (e-commerce)," katanya.

Ajak tenant
Cara lain yang dapat ditempuh mal untuk meningkatkan kunjungan ialah dengan mengajak tenant dalam ajang khusus. Michelle Widjaja selaku Founder Shirokuma menjelaskan, tenant dapat ikut mendukung ajang atau acara yang diselenggarakan pusat perbelanjaan. Sebut saja, program promosi pada waktu tertentu.

Kehadiran pusat perbelanjaan, bagi CEO Berrybenka Jason Lamuda, masih memiliki nilai penting. Karena itu, penyedia pasar digital untuk produk fesyen itu turut membuka toko fisik di sejumlah pusat perbelanjaan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran merek di masyarakat.

"Tentu perlu juga pengelola pusat perbelanjaan memperhatikan tren yang berkembang di media sosial atau masyarakat. Di luar negeri, misalnya, sudah ada pusat perbelanjaan yang menyediakan teknologi realitas semu (augmented reality) bagi para tenant," tutur Jason.

Di sisi lain, CEO Rockstar Gym Indonesia John Franklin menyebutkan, pusat perbelanjaan yang dapat bertahan di tengah gempuran platform perdagangan elektronik saat ini ialah yang mampu menyediakan banyak hiburan, kesenangan, layanan tambahan, zona belanja yang menarik, dan pengalaman lebih bagi pengunjung. (S-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya