Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyampaikan inflasi pada Maret lalu secara umum sebesar 0,2% dan secara tahunan (yoy) mencapai 3,4%. Meski angka itu sudah sesuai dengan prediksi BI, BI mewaspadai tekanan inflasi yang masih terlihat pada sektor pangan yakni bawang merah dan cabai.
"Kami juga melihat ada tekanan akibat penyesuaian harga BBM yang tidak disubsidi. Namun, secara umum kegiatan untuk melakukan pengendalian inflasi berjalan dengan baik dan akan mencapai apa yang kita targetkan di akhir tahun," ujar Agus di sela Rapat Paripurna DPR penetapan Gubernur BI terpilih Perry Warjiyo di kompleks parlemen, Jakarta, kemarin.
Di sisi lain, kata Agus, meski Indonesia tengah menghadapi berbagai tekanan eksternal dengan kebijakan suku bunga dan proteksionisme beberapa negara, aliran dana masuk ke Indonesia mulai terlihat.
"Sebetulnya inflow dana dari surat berharga negara (SBN) sejak minggu kedua dan ketiga Maret bahkan sampai sekarang itu sudah ada. Padahal, kalau dilihat dari bulan Februari lalu ada tekanan, outflow dari SBN. Jadi, secara umum kami menyambut baik kondisi tekanan pada Februari lalu sudah dapat diatasi," tutur Agus.
Agus menambahkan hasil dari pertemuan dewan gubernur The Fed (FOMC) pada Maret lalu di Amerika Serikat juga membuat pasar kini lebih tenang. Meski sampai 29 Maret lalu masih ada depresiasi sekitar 1,5% (year to date), pelemahan mata uang rupiah masih lebih sedikit jika dibandingkan dengan mata uang negara lain seperti Fili-pina, India, serta Turki yang terdepresiasi cukup besar.
"Kemarin (Maret lalu) market (pasar) menunggu hasil dari FOMC yang kemudian diputuskan bahwa Fed fund rate (FFR) naik dan itu yang keenam kalinya sejak akhir 2015. Selanjutnya, kami melihat pasar sudah jauh lebih stabil dan sesuai dengan perkiraan," pungkas Agus.
Intervensi
Pada kesempatan sama, Gubernur BI terpilih Perry Warjiyo mengatakan BI akan selalu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamental. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, kemarin sore, melemah tipis sebesar 5 poin menjadi 13.753 dari posisi sebelumnya 13.748 per dolar AS.
"Dalam kondisi formal tentu saja nilai tukar ditentukan oleh mekanisme pasar. Namun, BI tidak segan-segan dalam kondisi nilai tukar mendapat tekanan, kita melakukan intervensi, baik menyuplai dolar AS di pasar valas maupun membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Insya Allah nilai tukar dalam beberapa waktu terakhir cenderung stabil dan aliran modal asing sudah mulai masuk," ungkap Perry.
BI juga, lanjut Perry, bakal menetapkan akselerasi di pasar keuangan sebagai salah satu prioritas kebijakan mereka. "Selama ini sebenarnya kan sudah banyak dilakukan, antara lain untuk volume pasar valas, rata-rata sekarang US$6 miliar per hari dan juga instrumen dari lindung nilai 40%-nya dan itu mendukung stabilitas nilai tukar," kata Perry.
Selain itu, ia menambahkan, BI bersama dengan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mendalami pasar keuangan untuk mendorong pembiayaan infrastruktur.
"Fokusnya seperti itu. Infrastruktur yang bisa dibiayai komersial oleh swasta itu bisa dibiayai atau diterbitkan sekuritas, dan lainnya apakah dalam bentuk public private partnership (PPP) atau penerimaan sekuritas seperti aset dan lain-lain agar bisa mengurangi beban fiskal dan BUMN," tutup Perry. (E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved