Peluang Pertahankan Suku Bunga Acuan Masih Ada

Fetry Wuryasti
03/4/2018 15:07
Peluang Pertahankan Suku Bunga Acuan Masih Ada
(MI/Susanto)

DI saat negara lain mulai menunjukkan menaikkan suku bunga acuan mereka dan Bank Indonesia telah memprediksi akan lebih banyak lagi negara-negara yang menaikkan suku bunga bank sentral mereka di tahun 2018. Bank Indonesia menekankan ruang mempertahankan suku bunga acuan 7-Days Repo Rate masih ada. Saat ini suku bunga bank sentral tercatat tetap di 4,25% pada Maret lalu.

Deputi Gubernur Terpilih Bank Indonesia periode 2018-2023 Dody Budi Waluyo mengatakan kebijakkan suku bunga bank sentral Indonesia menahan pada Maret kemarin. Sebab semua risiko masih dalam sasaran.

"Artinya stance kami tetap netral? dalam melihat kondisi saat ini. Semua risiko baik inflasi maupun nilai tukar sampai akhir tahun pada pengamatan kami di bulan Maret kemarin saat RDG masih dalam sasaran sehingga tidak perlu untuk melakukan penyesuaian policy rate," ujarnya usai Rapat Paripurna Pengesahan Gubernur dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Terpilih, di Gedung Parlemen, Jakarta, hari ini.

Adapun beberapa negara terpantau seperti Kanada sepanjang 2017 tercatat menaikkan dua kali suku bunga bank sentral mereka dari 0,5% menjadi 0,75 pada Juli, kemudian di September naik menjadi 1 persen dan Januari  menjadi 1,25%. Kemudian Kanada menahan suku bunga mereka di Maret 2018.  

Sedangkan Inggris telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada September 2017 dari 0,25% menjadi 0,5%. Begitu pula Korea yang suku bunga acuan mereka naik dari 1,25% menjadi 1,5% apda September 2017, serta Malaysia yang menaikkan suku bunga pada Januari 2018 dari 3% menjadi 3,25%.

Evaluasi dan pantauan perkembangan gejolak suku bunga, selalu dilakukan Bank Indonesia setiap bulan melalui Rapat Dewan Gubernur, untuk melihat risiko ke depan.

"Pada saat kemarin kami melihat, risiko itu semua telah terkalkulasi dan sudah masuk di perhitungan. Jadi tidak perlu ada penyesuaian. Ke depan tentunya tergantung kondisi pada saat itu tapi kami melihat room untuk tetap (mempertahanhan suku bunga) masih ada," tukas Dody.

Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowadojo mengatakan kondisi pasar sudab mulai jauh lebih stabil dan sesuai dengan  perkiraan Bank Indonesia.

"Kita juga menyambut baik bahwa kalau kemarin ada kehawatiran dengan dananya trande war AS mengambil posisi terus kemudian dari Tiongkok merespon dengan memberikan bea masuk untuk 128 komoditi. Tetapi kita melihat ada arah untuk suatu kesepahaman itu ada, dan itu kami dengar pejabat-pejabat terkait semua optimis bahwa tradewar ini akan di peroleh suatu solusi sehingga tidak perlu terjadi kondisi yang sama-sama kota tidak inginkan," tambah Agus.

Berbeda, Sebelumnya Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan Bank Indonesia telah mulai mewaspadai kenaikan-kenaikan suku bunga di negara-negara maju dan sekitar.

Kenaikan suku bunga bank sentral negara lain memang akan ada risiko pembalikan modal. Namun yang penting, kata Mirza, Indonesia harus bisa menjaga angka makro dengan baik, seperti inflasi dan pengendalian transaksi berjalan yang defisit

"Kalau suku bunga di luar negeri nai buka  berarti Bank Indonesia turut naikkan suku bunga. Terbukti  ketika AS dan lainnya menaikkan suku bunga, BI tidak perlu ikut menaikkan. Tapi memang suku bunga jangka panjang juga agak naik, yaitu yield SBN dilihat sudah agak naik emang 60 basis , sekarang sebesar 6,8 % . Itu masih level rendah menurut kami. Sedangkan ruang penurunan suku bunga acuan sudah cukup turun 8 kali," tukas Mirza, Senin (2/4). (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya