RI Tujuh Besar Dunia di 2030

Nur Aivanni
28/3/2018 07:05
RI Tujuh Besar Dunia di 2030
(MI/Ramdani)

PRESIDEN Joko Widodo mengatakan ekonomi Indonesia akan masuk tujuh besar dunia pada 2030.

Kepala Negara menyampaikan hal itu di depan peserta Rakernas II Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia 2018 di Ballroom Hotel Grand Paragon, Jakarta, kemarin.

"Di 2030 ekonomi kita berada di urutan 7 sampai 10 besar terkuat di dunia. Hal ini harus menimbulkan optimisme kita. Sekarang ekonomi kita sudah masuk 16 besar dunia," kata Jokowi.

Pernyataan Jokowi salah satunya berlandaskan kajian Pricewaterhouse Coopers (PwC) yang menyoroti negara-negara dengan perekonomian terkuat pada 2030. Dalam kajian berjudul The Long View: How Will the Global Economic Order Change by 2050, PwC mengukur perekonomian 32 negara atas dasar PDB dan kesetaraan daya beli.

Dari sekian negara yang dinilai mampu menjaga peringkatnya selama satu dekade lebih dan diperkirakan tumbuh pesat, Indonesia salah satunya.

Lebih lanjut, Jokowi menambahkan pada 2040-2045 Indonesia menempati lima besar terkuat di dunia. "Insya Allah nomor 4. Kita patut mensyukuri. Kendati demikian, kita masih menghadapi ketimpangan dan kemiskinan. Saya menunggu rekomendasi dari rakernas ini. Bapak dan Ibu mengetahui semua persoalan yang kecil dan detail," ujar Presiden.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengemukakan Indonesia bisa menjadi negara maju sebelum 2045 atau 100 tahun setelah merdeka. Syaratnya pertumbuhan ekonomi konsisten di kisaran 5% agar pendapatan per kapita rakyat mencapai US$20 ribu dari saat ini sebesar US$3.700.

Namun, kata Bambang, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu pemerintah menyiapkan fondasi seperti peningkatan kapasitas SDM, perluasan pasar, teknologi, pembenahan distribusi logistik, perbaikan industri manufaktur, dan pembangunan infrastruktur.

"Stok infrastruktur kita kini hanya 38% atau kalah jauh dari India (58%), Tiongkok (76%), dan Afrika Selatan (87%)," ujar Bambang.

Ekonom Center of Reform on Economics Mohammad Faisal tidak menampik pernyataan Presiden karena jumlah penduduk Indonesia melebihi 300 juta. Tentu saja PDB pun besar. "Membangun dari pinggiran, dana desa, bansos, dan memangkas bunga KUR menjadi 7% akan menurunkan kesenjangan. Ekonomi kita mesti tumbuh 8% lebih per tahun agar pendapatan per kapita melebihi US$3.700 per tahun."

Timbulkan pesimisme

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto melalui tayangan video di media sosial yang mengutip novel Ghost Fleet A Novel of the Next World War menyebutkan Indonesia tidak ada lagi pada 2030.

"Saudara-Saudara, kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, dan kita masih pakai lambang negara. Tetapi negara lain bikin kajian di mana Indonesia dinyatakan tidak ada lagi pada 2030. Mereka ramalkan kita ini bubar," ungkap Prabowo.

Dalam menanggapai pernyataan Prabowo itu, pakar komunikasi politik Hamdi Muluk menjelaskan dalam dunia psikologi ada istilah self-fulfilling prophecy yang maknanya seseorang membuat perkiraan atas dasar ramalan dan menjadi kenyataan karena dia berusaha mewujudkannya.

"Contohnya, Anda meramalkan seminggu lagi BBM langka. Karena orang panik dan percaya, semua membeli BBM sehingga terjadi kelangkaan. Terus Anda bilang, 'Tuh benar, kan'," kata Hamdi.

Dalam soal apa pun, lanjut Hamdi, rakyat tidak ingin negara ini bubar. "Pidato (Prabowo) itu menimbulkan pesimisme. Prabowo ingin mengatakan hanya dia yang bisa menyelamatkan Indonesia. Kira-kira begitu."(Nyu/Hym/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya