Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH meminta semua pihak tidak memolitisasi impor beras. Upaya mendatangkan komoditas dari luar negeri ini dipastikan tidak merugikan petani lokal.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, saat ini muncul pernyataan dari sejumlah pihak yang tidak setuju dengan impor beras. Mereka menyebut kebijakan ini akan merugikan petani.
"Jangan pertentangkan beras impor dengan tidak menyejahterakan petani," kata Enggartiasto dalam Rapat Koordinasi Nasional Stabilisasi Harga dan Stok/Pasokan Barang Kebutuhan Pokok Jelang Bulan Puasa 2018 yang digelar Kementerian Perdagangan di Bandung, Jumat (23/3).
Dia memastikan, petani tidak akan dirugikan dengan adanya impor beras. Sebab, lanjut Enggartiasto, pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) tetap akan membeli beras dari petani lokal dengan harga yang ideal.
"Berapapun harganya turun, Bulog pasti beli. Dirut Bulog sudah mempertaruhkan jabatannya kalau tidak mengambil beras dari petani, silakan berhentikan," katanya.
Bahkan, menurutnya, Bulog membeli dengan harga yang lebih tinggi dibanding tengkulak. "Yang jadi masalah kalau yang dibeli bukan dari petani. Petani jual ke tengkulak Rp3.500 (per kg), Bulog beli Rp3.700," katanya.
Oleh karena itu, Enggartiasto menyebut penghembusan opini impor beras akan merugikan petani merupakan upaya pembodohan masyarakat yang kental dengan aroma politik.
Menurut dia, upaya itu tidak terlepas dari akan digelarnya sejumlah ajang demokrasi pada tahun ini dan 2019. "Jelang pesta demokrasi, isu impor ini terus digoreng elite politik untuk membodohi rakyat. Juga oleh ekonom yang tidak ngerti," katanya.
Enggartiasto membenarkan pemerintah mengimpor 500 ribu ton beras dari Thailand dan Vietnam. Saat ini, sudah terealisasi 281 ribu ton dan sisanya akan segera terpenuhi.
Impor beras ini merupakan upaya pemerintah untuk menstabilisasi harga barang pokok tersebut. Dia pun menyebut praktik impor ini merupakan hal yang biasa dalam perdagangan, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai bentuk kelemahan.
Dia menyontohkan, meski mengekspor beras ke Indonesia, Thailand dan Vietnam pun mengimpor beras dari Kamboja. "Begitu juga Myanmar. Itulah namanya perdagangan, menjual dan membeli," katanya. (A-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved