Rupiah Berpotensi kembali Menguat

Fetry Wuryasti
23/3/2018 07:25
Rupiah Berpotensi kembali Menguat
(MI/RAMDANI)

NILAI tukar rupiah di akhir perdagangan kemarin berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) tergerus 22 poin dari 13.759 menjadi 13.737 per dolar AS.

Sejumlah analis menilai rupiah melemah karena pelaku pasar mengalihkan dana mereka, yakni tergiur bunga tinggi setelah Bank Sentral AS, Federal Reserve (the Fed), menaikkan patokan suku bunga perbankan 25 basis poin menjadi 1,75%.

"Fundamen ekonomi Indonesia kondusif sehingga rupiah berpotensi menguat. Per gerakan dolar AS juga dibayangi kebijakan Trump terhadap Tiongkok. Proteksionisme AS justru menghambat laju ekonominya," kata analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong, kemarin.

Global Head of Currency Strategy and Market Research FXTM, Jameel Ahmad, optimistis rupiah tetap stabil terhadap dolar AS. "Kepercayaan pelaku pasar terhadap dolar AS menurun ketika the Fed memberi sinyal tidak menaikkan suku bunga sebanyak empat kali tahun ini."

Kemarin, the Fed menaikkan suku bunga pinjaman untuk pertama kali pada tahun ini ke level tertinggi dalam satu dekade. Langkah ini memengaruhi semua jenis pinjaman dari rumah ke mobil hingga utang mahasiswa, tetapi justru mengukuhkan pertumbuhan ekonomi negara Paman Sam tersebut.

"Kami mau mengangkat pertumbuhan. Kini, risiko yang menonjol perang dagang," ujar Gubernur the Fed, Jerome Powell.

Dorong pemulihan

Untuk mengantisipasi langkah the Fed, Bank Indonesia (BI) tetap mengupayakan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung pemulihan ekonomi domestik.

BI juga mewaspadai risiko eksternal seperti peningkatan ketidakpastian pasar finansial dunia dan kecenderungan inward oriented trade policy di sejumlah negara dan lonjakan inflasi di dalam negeri.

Rapat Dewan Gubernur BI pada 21-22 Maret 2018 sepakat mempertahankan BI 7-day reverse repo rate di posisi 4,25%. Adapun suku bunga likuiditas harian perbankan (deposit facility) sebesar 3,50% dan suku bunga pinjaman perbankan (lending facility) 5,00%.

"BI menilai pelonggaran kebijakan moneter sebelumnya tetap memadai untuk mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman, kemarin.

Project Consultant Asian Development Bank Institute, Eric Sugandi, memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 13.600-13.800 per dolar AS hingga akhir pekan ini. "Nilai tukar rupiah terlalu jauh dari nilai fundamentalnya di level 13.300-13.500. Rupiah akan diuji pasar di level 14.000 per dolar AS."

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Yoga Affandi, mengatakan pihaknya justru lebih memperhitungkan seberapa besar daya saing rupiah terhadap mata uang regional. "Kenaikan bunga The Fed sudah diperkirakan sehingga pasar lebih tenang. Kami perlu mencermati perekonomian AS," tukas Yoga.

Analis Indef Bhima Yudhistira menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga menjadi pertimbangan investor asing di pasar saham dan obligasi. "Ada kekhawatiran dana terus mengalir keluar meskipun besarannya menurun jika dibanding Februari. Investor mungkin melirik treasury bond di AS karena imbal hasilnya sekitar 2,8%-2,9%. Pemerintah mungkin saja menaikkan kupon surat berharga negara 25-50 basis poin."(Hym/Ire/AFP/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya