Indonesia Harus Ambil Keuntungan dari Annual Meeting IMF

Andhika Prasetyo
12/3/2018 17:05
Indonesia Harus Ambil Keuntungan dari Annual Meeting IMF
(ANTARA/Eric Ireng)

INDONESIA akan memiliki banyak keuntungan dari pagelaran akbar Annual Meeting International Monetary Fund (IMF) yang dihelat di Bali pada 12-14 Oktober mendatang.

Ekonom Senior UGM Tony Prasetiantono mengungkapkan, kurang lebih dalam sepekan, Indonesia akan mendapatkan perhatian penuh dari seluruh dunia. Sebanyak 17 ribu orang dari 189 negara diproyeksikan akan menghadiri pertemuan tersebut.

Kesempatan akbar itu, lanjutnya, harus dapat manfaatkan dengan sebaik mungkin demi mempromosikan Tanah Air di kancah internasional.

"Walaupun ini Annual Meeting IMF, kegiatan ini adalah pameran mengenai Indonesia. Kita harus memiliki tim, orang-orang yang mumpuni dalam melakukan lobi-lobi ekonomi, investasi perdagangan dan lain sebagainya. Itu semua sangat penting," ujar Tony di sela-sela acara Forum Group Discussion di Kantor Media Group, Jakarta, Senin (12/3).

Sebagaimana keinginan Presiden Joko Widodo untuk terus meningkatkan kinerja ekspor, ajang tahunan IMF dapat menjadi kunci bagi terciptanya berbagai kesepakatan dengan negara-negara nontradisional sebagai pasar baru komoditas-komoditas lokal. sementara, bagi negara tradisional, momentum kali ini dapat dijadikan untuk menjelaskan lebih jauh terkait berbagai persoalan yang selama ini masih menaungiproduk lokal seperti kelapa sawit yang dianggap tidak ramah linkgungan sehingga ditentang oleh Parlemen Uni Eropa.

"Intinya harus ada target MoU, harus ada kesepakatan baru. Perdagangan kita masih menyisakan beberapa persoalan. Itu bisa menjadi perhatian kita semua," terang Tony.

Selain perdagangan, pariwisata juga menjadi sektor yang mendapatkan manfaat besar dari perhelatan Annual Meeting IMF. Hampir sebagian besar masyarakat dunia kini tengah dilanda demam leisure economy. Indonesia, sambung Tony, dapat memperkenalkan berbagai daerah wisata yang memang tengah digaungkan pemerintah, terutama 10 destinasi yang dijuluki sebagai Bali Baru.

Berkaca pada pengalaman Peru yang menjadi tuan rumah bagi Annual Meeting IMF 2015, pada tahun selanjutnya, tercatat, peningkatan wisatawan asing ke negara yang terletak di Amerika Selatan itu mencapai 17%.

"Dampaknya memang tidak akan seketika di tahun ini, tetapi baru bisa di tahun berikutnya. Kalau tahun lalu jumlah wisatawan asing ke Indonesia sebesar 12,7 juta jiwa, di tahun ini mungkin bisa 15 juta dan tahun-tahun berikutnya lebih besar lagi," paparnya.

Terkait anggaran perhelatan yang mencapai Rp800 miliar, Tony menilai angka tersebut masih dalam batas wajar. Pasalnya, jika dibandingkan ajang besar lainnya yang juga digelar tahun ini, yakni Asian Games, angkanya berbanding sangat jauh.

"Dibandingkan Asian Games,anggaran yang dibutuhkan itu mencapai Rp6 triliun. Itu yang langsung untuk kepentingan pertandingan, di luar infrastruktur yang dilepas karena tujuannya untuk jangka panjang. Jadi Rp800 miliar itu masih reasonable," jelasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya