Empat Paket Penguat Rupiah

Fathia Nurul Haq
17/3/2015 00:00
Empat Paket Penguat Rupiah
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil (kanan), didampingi Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (tengah) dan Menteri ESDM Sudirman Said (kiri).(ANTARA/Ismar Patrizki)

DAYA tahan rupiah tampaknya benar-benar diuji. Pada penutupan perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah kembali melemah 45 poin menjadi 13.230 jika dibandingkan dengan sebelumnya di posisi 13.185 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data hasil survei bahwa pada awal Februari lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara rata-rata di 34 provinsi melemah 121,89 poin atau 0,98% jika dibandingkan dengan minggu terakhir Januari 2015.

"Selama Februari, rupiah sudah terdepresiasi 2,95% terhadap dolar AS," ujar Kepala BPS Suryamin di Jakarta, kemarin.

Untuk menahan laju pelemahan rupiah itu, pemerintah mengumumkan serangkaian insentif demi merestrukturisasi perekonomian nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menjelaskan paket insentif itu bertujuan mengurangi hambatan dari kebijakan perekonomian sebelumnya dan pada akhirnya bisa memperkuat nilai tukar rupiah.

"Intinya ada empat kebijakan besar. Nanti implementasi turunannya segera diumumkan," ujarnya seusai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Dari enam kebijakan besar itu, empat di antaranya peningkatan kadar biofuel dalam biosolar dari 10% menjadi 15%, penerapan bea masuk antidumping sementara dan bea masuk tindak pengamanan (safeguard), perjanjian bebas visa dengan 30 negara, serta pemberian insentif pajak.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan insentif pajak dibuat lebih longgar.

Ia belum merinci sektor apa saja yang baru.

Namun, insentif pajak diberikan untuk investor yang melakukan investasi besar, TKDN (tingkat kandungan dalam negeri) tinggi, serta melakukan riset dan pengembangan (research and development).

Selain itu, insentif pajak diberikan pada pelaku usaha yang mengekspor 30% dari hasil produksi.

"Intinya tidak rigid detail per sektor seperti sebelumnya, ada relaksasi," ucapnya.

>b>Hemat US$1,3 miliar

Terkait dengan penerapan peningkatan komposisi biofuel 15%, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengungkapkan pihaknya sudah menyiapkan draf aturannya.

"Penggunaan biofuel hingga mencapai 15% bisa menghemat devisa hingga mencapai US$1,3 miliar," ujarnya.

Mengenai pembebasan visa bagi 30 negara, Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan bebas visa ialah cara termudah untuk meningkatkan wisatawan mancanegara.

"Harapannya ada tambahan 1 juta wisman. Kalau dikonversi dengan dolar, sekitar US$1 miliar dengan asumsi setiap wisman menghabiskan sekitar US$1.200 selama 7,7 hari," paparnya.

Sebelumnya, hanya 15 negara yang bebas visa.

Dengan penambahan tersebut, terdapat 45 negara bebas visa masuk Indonesia.

"Hampir semua negara Eropa masuk, Amerika juga masuk," jelas Arief.

Ekonom dari BCA, David Sumual, melihat Indonesia sulit lepas dari volatilitas rupiah akibat sentimen eksternal.

Apalagi Indonesia masih dicap sebagai negara fragile five yang masih bermasalah dengan defisit transaksi berjalan.

(Wib/Bow/Ire/X-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya