Suplai Gabah di Penggilingan Padi di Daerah Menurun

02/2/2018 22:34
Suplai Gabah di Penggilingan Padi di Daerah Menurun
(ANTARA FOTO/Akbar Tado)

BADAN Pusat Statistik (BPS) menyebutkan penyumbang inflasi pada Januari 2018 adalah tingginya harga beras.

Inflasi Januari 2018 tercatat 0,62% di mana komponen pengeluaran bahan makanan tingkat inflasinya 2,34% dengan andil 0,48%. Dari situ, harga beras andilnya 0,24%. Mengenai tingginya harga beras ini, disebabkan beberapa daerah mengalami kekurangan pasokan.

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Beras dan Padi (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, penyerapan gabah di penggilingan padi di beberapa daerah sangat menurun pada akhir 2017 dan Januari 2018.

"Memang selama ini saat musim-musim paceklik yang masuk ke penggilingan padi mengalami kekurangan. Tapi ini saya cross check dengan teman-teman penggilingan, ternyata tahun ini sebagian juga, bahkan sampai tidak bisa berproduksi," kata Sutarto saat dihubungi, Jumat (2/2).

Selain kekurangan suplai gabah, pengusaha penggilingan kecil yang memproduksi beras medium melihat kecenderungan harga padi yang mahal. Hal itu, lanjut Sutarto, juga menimpa perusahaan penggilingan padi yang besar.

"Saya cross check lagi dengan yang besar-besar, pemasok-pemasok di luar daerah maupun antarpulau. Mereka mengatakan, kami sebenarnya rugi pada bulan-bulan ini. Tapi karena dia menjaga langganan sehingga harus dipasok terus meskipun harga mahal," imbuhnya.

Selain ketiadaan produksi di penggilingan, mantan Kepala Bulog ini juga menilai, indikator ketahanan beras nasional dilihat dari stok yang ada di Bulog. Dia menilai, stok Bulog yang saat ini di bawah 700 ribu ton membuktikan adanya kesalahan dalam produksi beras.

"Sebenarnya kalau berdasarkan diskusi-diskusi dan survei, negara sebesar Indonesia itu sebenarnya harus mempunyai cadangan beras. Dulu disepakati harus mempunyai 1,5 juta ton. Sekarang kenapa Bulog tidak bisa mencapai satu juta ton?" papar Sutarto lagi.

Sutarto melihat, ada dua potensi kekurangan stok beras di Bulog. Pertama karena lambat menyerap beras saat panen raya, atau kedua, memang pasar sangat membutuhkan beras sehingga stok tergerus.

Namun demikian, dia menekankan, Bulog bisa saja melakukan penyerapan dengan cepat jika produksi padi nasional tercukupi. Terlebih Kementerian Pertanian lewat pemberitaan selalu menyatakan panen dan tanam setiap hari.

"Produksi hari itu kan juga dipasarkan hari berikutnya untuk mengisi pasar dulu. Itu tidak benar jika Bulog kalah bersaing. Bulog bukan untuk bersaing, tapi untuk mengisi pasar," lanjutnya.

Mengenai klaim stok beras nasional aman, Sutarto meragukannya. Sebab, pada Januari 2018 harga beras di tingkat penggilingan, eceran, dan grosir naik.

Harga beras medium di tingkat penggilingan pada Januari 2018 sebesar Rp10.177 per kg, meningkat 6,83% dari Desember 2017 sebesar Rp 9.526. Harga beras premium di tingkat penggilingan pada Januari 2018 sebesar Rp10.350 per kg meningkat 4,96% dari Desember 2017 sebesar Rp9.860.

"Makanya, yang harus kita lihat adalah bagaimana perkembangan harga. Kalau harga naik, pasti harus dipertanyakan lagi. Berarti produksinya atau distribusinya?" tandas dia. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya