Milenial Lebih Suka Transaksi dengan Kartu

Fetry Wuryasti
31/1/2018 11:24
Milenial Lebih Suka Transaksi dengan Kartu
(Ilustrasi)

MAYORITAS milenial Indonesia (59%) khususnya kelas menengah ke atas, kini lebih menyukai transaksi secara nontunai.

Kartu debit menjadi alat pembayaran nontunai yang paling disukai milenial (50%), diikuti uang elektronik (33%) dan kartu kredit (17%).

Hal itu terungkap dari riset yang dilakukan Brilio.net, penerbit konten digital, bersama dengan JakPat Mobile Survey. Riset yang dilakukan terhadap 1.021 milenial berusia 21-37 tahun di 34 kota besar Indonesia ini menunjukkan, meskipun kartu kredit berada di urutan terbawah alat pembayaran nontunai yang paling disukai, 63% milenial mengakui kebutuhan mereka akan kartu kredit.

Joe Wadakethalakal, CEO & Co-Founder Brilio.net mengatakan milenial kini sudah menyukai transaksi nontunai. Dia berharap infrastruktur pembayaran dan SDM yang ada dapat mendukung mereka untuk lebih sering melakukan transaksi nontunai.

“Hal ini juga akan mendukung target pemerintah untuk membentuk masyarakat yang lebih aktif menggunakan transaksi nontunai (less-cash society)," ungkap Joe melalui rilis yang diterima di Jakarta, Rabu (31/1).

Populasi generasi milenial di Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang ada pada laporan Alvara Research Center, diperkirakan akan berjumlah 83 juta jiwa di 2020, atau 34% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dari 1.021 responden survei, 478 di antaranya mengaku sebagai pemilik kartu kredit. Mayoritas pengeluaran kartu kredit milenial tersalurkan untuk produk elektronik (27%), makanan dan minuman (25%), perjalanan wisata (23%), dan pembelian produk fesyen (15%).

“Ini menunjukkan bagaimana gawai, liburan, nongkrong dan juga fesyen menjadi esensi dalam gaya hidup milenial. Pengeluaran lainnya adalah langganan layanan musik dan video on demand (5%) dan lain-lain (4%),” tambah Joe.

Untuk mendukung kebutuhan dan gaya hidup, milenial berusaha berhemat dengan mencari barang yang memberikan kemudahan untuk mereka mendapatkannya. Alasan utama mereka untuk memiliki kartu kredit, sebesar 44% menjadikan diskon, cashback, dan program cicilan.

“Alasan lainnya yang populer adalah cadangan untuk keadaan darurat (38%), kepraktisan karena tidak perlu memegang uang tunai (16%) serta status sosial (1%),” ungkapnya lagi.

Milenial juga mengakrabi teknologi dan kehidupan dunia maya. Hal ini juga berlaku dalam halnya ketika mereka mencari informasi mengenai kartu kredit.

Sebanyak 38% millennial menjadikan laman resmi penyedia kartu kredit sebagai sumber referensi kartu kredit utama mereka. Uniknya di tengah kehidupan dunia digital mereka, 23% milenial ternyata masih menjadikan orangtua, keluarga atau teman sebagai referensi utama dalam memilih kartu kredit.

“21% memilih karyawan bank dan sales kartu kredit, dan 18% sisanya mempercayai ulasan daring,” tandas Joe.

Meski demikian, milenial masih bertanggung jawab dalam memakai kartu kredit mereka. Hal ini terlihat dari sebanyak 55% mengaku tidak pernah memakainya hingga batas maksimal.

Sementara 84% mengaku lebih sering membayar tagihannya sesuai yang ditagihkan. Kemudian 72% bahkan mengaku tidak pernah membayar tagihannya melewati tanggal jatuh tempo.

Hal lain yang menunjukkan bertanggung jawabnya milenial adalah dari limit maksimal kartu kredit, beserta jumlah rata-rata tagihan kartu kredit yang dimiliki.

Sebanyak 53% milennial mengaku limit kartu kredit tertinggi yang mereka punya berkisar antara Rp5 juta-Rp10 juta. Adapun sebesar 18% mengaku limit tertinggi mereka ada di kisaran Rp10.000.001-Rp15.000.000.

Kemudian 12% mengaku memiliki limit lebih dari Rp30 juta, dan 10% mengaku limit tertinggi mereka ada di kisaran Rp15.000.001-Rp20.000.000. Sisanya, sebanyak 7% mengaku limit tertinggi ada di kisaran Rp20.000.001-Rp30.000.000.

Milenial ternyata cukup waspada akan potensi pengeluaran berlebih yang dapat terjadi jika mereka memiliki kartu kredit. Beberapa alasan mereka untuk tidak memiliki kartu kredit, antara lain potensi pemborosan (44%), potensi terlilit hutang (28%), tidak disetujui bank (17%), dan bunga yang tinggi (11%).

Sedangkan hal yang paling mereka pertimbangkan sebelum memilih kartu kredit adalah cashback, diskon, dan program cicilan (44%), fitur bebas biaya tahunan (36%) serta suku bunga yang rendah (22%).

Meskipun setiap penerbit kartu kredit menawarkan berbagai promo menggiurkan, milenial ternyata tidak serta merta langsung memiliki banyak kartu kredit.

Mayoritas milenial pemilik kartu kredit ternyata hanya memiliki satu kartu kredit. Dari 478 responden pemilik kartu kredit, 54% mengaku memiliki 1 kartu kredit, 29% mengaku memiliki 2 kartu, 10% memiliki 3 kartu, dan 6% memiliki 4 kartu atau lebih.

Mayoritas dari mereka yaitu 60% ternyata tidak menganggap kartu kredit sebagai simbol status sosial. Hanya 40% yang menganggap kartu kredit sebagai simbol status sosial mereka.

Mereka juga berpendapat sebanyak 91% responden merasa terganggu dengan penawaran kartu kredit via telepon. Sedangkan 86% merasa pilihan kartu kredit yang ada di pasaran terlalu banyak.

“Lainnya yaitu 66% milenial masih kesulitan mengetahui kartu kredit mana yang paling sesuai kebutuhan mereka,” tutup Joe. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya