Pemerintah Harus Cermati Dampak Shutdown AS

Tesa Oktiana Surbakti
20/1/2018 14:30
Pemerintah Harus Cermati Dampak Shutdown AS
(AFP/Aaron P. Bernstein)

SHUTDOWN atau penghentian sementara operasional pemerintahan Amerika Serikat, diprediksi berlangsung dari pekan terakhir Januari hingga pekan kedua Februari 2018.

Langkah itu merupakan konsekuensi dari adanya ketidaksepakatan antara Presiden dan Kongres dalam penyusunan anggaran negara, khususnya terkait pembiayaan.

Adapun departemen yang akan terkena efek penutupan sementara setidaknya Departemen Perdagangan, NASA, Departemen Ketenagakerjaan, Departemen Perumahan dan Departemen Energi.

Bagi Indonesia dampak terjadinya shutdown secara temporer sangat minim ke nilai tukar rupiah. Proyeksi rupiah masih berada dalam rentang yang terkendali di kisaran Rp13.350-Rp 13.400 per dolar AS ketika terjadi shutdown. Hal ini disebabkan pada masa shutdown, dolar AS cenderung melemah terhadap mata uang negara lainnya.

"Terjadinya shutdown menyebabkan prospek pemulihan ekonomi AS bisa terganggu. Dalam posisi ini justru rupiah akan diuntungkan. IHSG pun masih tetap positif di angka 6.490-6.500, didorong oleh sentimen investor dalam negeri terhadap prospek pemulihan ekonomi Indonesia," ujar pengamat ekonomi INDEF Bhima Yudhistira dalam keterangan resmi, di Jakarta, Sabtu (20/1).

Peristiwa shutdown pernah terjadi 1995-1996 dan 2013. Saat itu kurs rupiah hampir tidak terpengaruh oleh hal tersebut. Karena sifatnya lebih temporer atau jangka pendek, kira-kira berlangsung dalam waktu 2 minggu. Dalam konteks persiapan menghadapi rencana shutdown saat ini, cadangan devisa Indonesia masih cukup untuk stabilisasi kurs.

Angka terakhir Desember 2017 cadangan devisa berada di posisi US$130 miliar. Sebagai safety net atau jaring pengaman terhadap gejolak eksternal, cadangan devisa harus terus ditingkatkan nilai maupun kualitasnya dengan mendorong devisa ekspor non-migas serta devisa pariwisata. Bank Indonesia juga perlu terus memantau resiliensi atau ketahanan fundamental ekonomi terhadap tekanan global.

"Namun yang perlu dikhawatirkan ialah shutdown saat ini akan berlangsung dalam jangka waktu relarif panjang, lebih dari 2 minggu," imbuh Bhima.

Dengan pertumbuhan ekonomi AS pada 2017 tercatat sebesar 3,2% pada triwulan III 2017, atau tercepat dalam 3 tahun terakhir, rencana shutdown akan menurunkan prospek ekonomi AS.

Secara spesifik jika shutdown berlangsung cukup lama kinerja perdagangan Indonesia ke AS berpotensi terganggu, sehingga kinerja ekspor Indonesia sepanjang 2018 berpotensi menurun.

Berdasarkan data BPS di 2017, porsi ekspor Indonesia ke AS mencapai 11,2% dari total ekspor atau senilai US$17,1 miliar. Pemerintah didesak untuk mempersiapkan mitigasi risiko, salah satunya dengan memperluas pasar ekspor ke negara alternatif. Sehingga ketergantungan terhadap AS berkurang.

Dari sisi investasi langsung sepanjang Januari-September 2017 berdasar data BPKM, realisasi investasi AS di Indonesia berada di peringkat ke 4 sebesar US$1,53 miliar atau naik US$1,1 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren positif investasi AS pada 2018 bisa terkoreksi akibat terjadinya shutdown, ditambah adanya reformasi kebijakan AS yang mulai berlaku efektif.

"Dengan kondisi tersebut, Pemerintah perlu terus melanjutkan reformasi investasi khususnya percepatan perizinan, deregulasi dan evaluasi insentif fiskal. Harapannya efek negatif investasi AS yang berkurang bisa di off-set oleh kenaikan investasi dari negara lainnya," imbuh Bhima.

Dampak shutdown di pasar keuangan akan berimplikasi pada naiknya yield surat utang yang mencerminkan kenaikan risiko serta keluarnya modal asing dari negara berkembang. Perlu dicatat sepanjang 2017, berdasarkan laporan Bloomberg, dana asing yang keluar dari bursa saham (net sales) Indonesia mencapai US$ 2,96 miliar atau hampir Rp40 triliun.

Dalam jangka menengah, tekanan keluarnya dana asing menguat dipengaruhi oleh ancaman kenaikan suku bunga Fed rate sebanyak 3 kali hingga akhir tahun, instabilitas geopolitik, proteksionisme perdagangan AS, dan kenaikan harga minyak hingga US$80 per barel.

Dengan kondisi tersebut, motor pertumbuhan ekonomi yang berasal dari investasi dan ekspor bisa terpengaruh. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 berada di angka 5,1% (year-on-year/yoy). Sementara suku bunga acuan 7 days repo rate diperkirakan akan tetap bertahan di 4,25% pada Februari mendatang. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya