Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEWUJUDKAN industri mobil masih terkendala stimulus berupa insentif. Tidak hanya itu, kendaraan ramah lingkungan sekaligus sarana transportasi masa depan bila ingin segera melaju di jalan raya, perlu didukung dengan kebijakan fiskal.
Menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, jika ingin membangun industri mobil listrik pemerintah harus berani memberikan insentif. Pasalnya biaya asli mobil listrik saat ini masih terlalu mahal untuk konsumen dalam negeri.
"Ya kalau dari kita, kalau mau itu ekonomis harus ada insentif. Karena kalau melihat pada biaya aslinya plus pajak dan beaya masuk, dia (mobil listrik) masih belum kompetitif dibandingkan mobil yang bukan listrik," ujar Bambang di Jakarta, Selasa (16/1).
Ia menjelaskan industri mobil listrik masih belum diminati investor lantaran masih terlalu mahal. Untuk membuat industri mobil listrik berkembang di Indonesia pemerintah harus memberikan banyak kemudahan.
"Iya bisa ada hitungannya, tapi insentif supaya mobil itu menarik untuk dikembangkan," terangnya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan industri mobil listrik tidak bisa terwujud hanya dengan regulasi. Namun hal itu membutuhkan kebijakan fiskal dari Kementerian Keuangan.
"Mobil listrik tergantung kebijakan fiskal pemerintah, itu terserah Kementerian Keuangan," ujarnya.
Jonan menambahkan, salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan membebaskan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPNBM) dan membebaskan bea masuk bagi mobil listrik itu.
Lebih jauh, Jonan menjelaskan bahwa saat ini untuk standar mobil listrik (hybrid) Amerika Serikat sekelas Tesla, harganya masih berkisar di angka Rp4 miliar saat masuk ke Indonesia. Namun dengan pemerintah memberikan insentif membebaskan PPNBM dan be masuk, harga mobil tersebut berkisar di angka Rp1,5 miliar.
"Kalau beli Tesla yang seri S misalnya, itu standar Mercy S Class, sampai sini harganya Rp4 miliar. Siapa yang mau beli? Kalau beaya masuk nol PPNBM dibebaskan mungkin (harganya) bisa Rp1,5 Miliar," kata Jonan.
Meski demikian Kementerian ESDM mendorong penggunaan listrik lebih banyak. Saat ini motor listrik menurut Jonan sudah mulai kompetitif karena dengan kehadiran Viar motor listrik Yamaha, dan akan ada beberapa lagi yang siap keluar tahun ini.
"Kita ingin listrik lebih banyak yang gunakan. pang paling menarik motor listrik paling biayanya sekitar Rp15.000. Kalau bisa pegawai Bu Siti (Menteri LHK) diimbau atau diwajibkan pakai motor listrik. Motor listrik murah mungkin Rp15 juta sekarang," tutupnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved