Target Pajak 2018 tidak Perlu Dikhawatirkan

Tes/X-6
09/1/2018 09:54
Target Pajak 2018 tidak Perlu Dikhawatirkan
(Kementerian Keuangan/L-1)

GUNA mencapai target penerimaan perpajakan 2018 sebesar Rp1.618,1 triliun, pertumbuhan perpajakan setidaknya harus mencapai 20%. Hal itu menjadi syarat mengingat realisasi penerimaan perpajakan per 31 Desember 2017 tercatat Rp1.343,4 triliun, atau 91,2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2017 Rp1.472,7 triliun. Padahal, semula dalam APBN 2018, pertumbuhan penerimaan perpajakan dipatok sekitar 9%-10%. Tingginya target perpajakan yang harus dicapai mulai memantik kekhawatiran dari pelaku usaha.

"Ngeri juga melihat (target pertumbuhan perpajakan) 20%. Dengan tax collection 20%, tentunya ada ekspansi tax base dalam hal ini," ujar Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang dalam dialog dengan Kementerian Keuangan, kemarin.

Namun, Menkeu Sri Mulyani memastikan pemerintah tidak akan membabi buta dalam menggapai target penerimaan perpajakan. Pasalnya pemerintah sudah memiliki basis perpajakan sekaligus strategi khusus.

Langkah perbaikan perpajakan di antaranya penerapan pertukaran informasi data perpajakan (auto exchange of information/AEoI) yang efektif berlaku pertengahan 2018 dan sistem informasi perpajakan yang terintegrasi melalui e-filling, e-form, dan faktur elektronik. Berikut peningkatan pelayanan dan efektivitas organisasi. Dia pun meminta pelaku usaha tidak berpersepsi negatif.

"Saya ingin meyakinkan pemerintah tidak akan kejar (pajak) tanpa basis. Jadi tidak perlu merasa ngeri. Kalau ngeri, silakan sampaikan ke saya supaya di-address," papar Sri.

Menkeu juga menekankan bahwa baik target penerimaan perpajakan maupun target belanja dibuat sedemikian rupa agar APBN dapat menjadi pendorong ekonomi, bukan penghambat.

Di lain sisi, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Rosan P Roeslani berpendapat minat investor terhadap fasilitas perpajakan yang diberikan pemerintah tergolong kurang.

Hal itu, kata dia, harus dibedah per kasus. "Itu mesti dilihat case by case. Kenapa? Saya belum bisa jawab. Kenapa industri ini enggak apply, apakah enggak ada demand atau kenapa," tukas Rosan.(Tes/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya