RENCANA pemerintah menggelontorkan paket kebijakan untuk memitigasi depresiasi rupiah disambut hangat banyak kalangan.
Aturan implementatif yang dijanjikan pemerintah terbit Senin (16/3) dinilai akan memicu sentimen positif pasar.
"Kalau Senin sudah keluar, itu bagus sekali," kata Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati, kemarin.
Ia juga berharap pada Senin itu aturan implementatif sudah disiapkan sehingga efektivitas kebijakan itu bisa terukur target, sasaran, dan efeknya.
Sebelumnya, pemerintah menyatakan akan mengeluarkan payung hukum bagi paket kebijakan ekonomi dalam rangka mitigasi depresiasi nilai tukar rupiah yang telah mencapai 13.193 per dolar AS.
"Senin kita akan keluarkan. Tentu pelaksanaannya ada teknisnya, seperti biodiesel kan harus ada tender dengan pertamina dan lain-lain," ujar Menko Perekonomian Sofyan Djalil seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, kemarin.
Ada empat kebijakan yang menurut Sofyan akan diimplementasikan untuk memitigasi rupiah, yaitu insentif pajak, penaikan komposisi biofuel, anti- dumping, dan bebas visa.
Di antara keempat instrumen yang direncanakan itu, menurut Enny, yang paling efektif ialah pemberian insentif bagi investor yang menahan dividennya di Indonesia.
"Menurut saya itu mengena langsung," kata Enny.
Pasalnya, Enny mencatat defisit transaksi berjalan terbesar dihasilkan oleh defisit neraca pendapatan primer, yakni dari pembayaran bunga dan dividen investasi baik portofolio maupun foreign direct investor yang mencapai US$27 miliar.
Menurut Enny, pemberian insentif bagi penanam modal yang mereinvestasi keuntungan investasinya bisa menahan permintaan akan dolar dan berdampak signifikan terhadap depresiasi rupiah.
Enny juga mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan bebas visa bagi empat negara yang akan menstimulasi sektor pariwisata. Bukan terburuk Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo, seusai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, kemarin, mengatakan pelemahan rupiah bukanlah yang terburuk jika dibandingkan dengan mata uang negara lain.
"Indonesia sepanjang 2014 depresiasi 1,8%, pada 2015 ini year to date 6%. Tetapi kalau kita bandingkan dengan negara yang selalu disamakan karena dianggap negara berkembang utama di dunia, kita lihat misalnya Brasil. Brasil itu 2014, depresiasi real itu 12,5%. Pada 2015 year to date itu 12%. Kan jadi kelihatan," papar Agus.
Ia juga membandingkan rupiah dengan mata uang Turki, lira, yang telah terdepresiasi 12% sejak Desember 2014 setelah sebelumnya terdepresiasi 8% sepanjang 2014.
Begitu pun dengan ringgit Malaysia yang memiliki persentase lebih tinggi depresiasinya terhadap dolar AS.
"Nah, coba lihat misalnya kita dengan Malaysia. Malaysia tahun lalu depresiasi mata uangnya kira-kira 6%. Terus 2015, 6% juga. Jadi, sebetulnya Indonesia yang tahun lalu 1,8% dan sekarang 6%, kita tidak terlalu buruk," lanjut Agus.
Chief Economist Reksadana Purbaya Yudhi Sadewa menilai nilai tukar rupiah yang melampaui 13.193 per dolar AS hanya bertahan belakangan ini.
Ia memprediksi dalam tiga bulan ke depan rupiah akan menguat pada level 12.500, bahkan enam bulan ke depan akan mencapai 12.000.
"Kalau kita lihat, 13.000 titik terlemah rupiah. Artinya, ke depan kecil kemungkinan lemah lagi. Kalau BI dan pemerintah proaktif kasih sentimen positif ke pasar, tiga bulan akan capai 12.500," cetus Purbaya.
Menurutnya, Maret dan April mungkin masih terjadi deflasi karena panen raya.
"Itu berita positif ke ekonomi. Artinya, daya beli tidak terganggu," kata Purbaya, kemarin. (Jes/X-7)