Bisnis Mini Market Tidak Terdampak e-Commerce

Erandhi Hutomo Saputra
31/12/2017 20:13
Bisnis Mini Market Tidak Terdampak e-Commerce
(ANTARA/Paramayuda)

TAHUN 2017 menjadi saat yang kurang menguntungkan bagi industri ritel. Sederet perusahaan seperti Seven Eleven (Sevel) bahkan gulung tikar, dengan menutup seluruh gerainya di Indonesia per Juni 2017.

Convenience store asal Amerika Serikat itu mulai menutup gerainya lantaran beberapa cabangnya tak sanggup menuai profit. Penutupan gerai tersebut diduga karena tidak sanggup bersaing dengan convenience store lainnya.

Pasalnya Sevel sangat bergantung pada penjualan bir serta beberapa makanan dan minuman. Namun semenjak Kementerian Perdagangan mengatur penjualan minuman beralkohol, kinerja Sevel mulai merosot.

Akan tetapi, ada faktor lain yang menyebabkan tutupnya gerai-gerai tersebut. Termasuk sulit bersaing dengan laman situs belanja daring hingga dugaan daya beli lesu.

Direktur Marketing PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Ryan Alfons Kaloh mengatakan, tutupnya gerai Sevel pada 2017 tersebut tidak akan berpengaruh ke bisnisnya. Sebab model bisnis Sevel dengan Alfamart berbeda. Menurut Ryan, Alfamart bukanlah convenience store, melainkan mini market.

"Konsepnya kan beda, kita kebutuhan sehari-hari. Orang ke situ (minimarket) untuk beli kecap, detergen, atau minyak goreng. Kita bukan untuk nongkrong cari snack, tapi kebutuhan sehari-hari," ujar Ryan saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ryan menambahkan, bisnis mini market juga tidak terdampak oleh e-commerce. Pasalnya, masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari tidak mungkin melalui daring. Masih baiknya prospek bisnis mini market tersebut terlihat dari jumlah transaksi yang rata-rata mencapai 4,2 juta transaksi per hari di bulan normal. Hal itu membuktikan daya beli masyarakat masih terjaga.

Dampak daring, ujar Ryan, mungkin mempengaruhi ritel yang menjual produk fesyen dan elektronik.

"Rasanya kontribusinya (daring) kurang dari 1% untuk grocery. Masa beli mi goreng mau pakai daring, beli sampo tunggu dulu, beli kecap daring. Kita dekat rumah kan gampang. Mungkin kalau lain terdampak (seperti) fesyen, lifesytle, atau elektronik. Tapi kalau kita rasanya kecil sekali," jelasnya.

"(Prospek di 2018) masih karena kita bicara kebutuhan masyarakat sehari-hari, itu mau tidak mau," imbuh Ryan. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya