Ekonomi Indonesia Diprediksi akan Tumbuh Tahun Depan

Gabriella Jessica Sihite
30/12/2017 20:27
Ekonomi Indonesia Diprediksi akan Tumbuh Tahun Depan
(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

PEREKONOMIAN Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh pada tahun depan. Tahun politik yang dimulai pada 2018 dinilai tetap akan positif bagi Indonesia.

Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden (KSP), Denni Puspa Purbasari, menilai pertumbuhan ekonomi masih akan positif karena faktor ekonomi global yang mengalami akselerasi. Berbagai negara meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2018, sehingga akan berdampak pada ekonomi Indonesia.

"Kita masih akan bertumbuh. Namun, perhatian utama kita adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi lebih broad based dan berkesinambungan supaya kemiskinan berkurang dan lapangan kerja tercipta," ucap Denni kepada Media Indonesia, Sabtu (30/12).

Selain itu, pemerataan ekonomi diprediksi Denni akan makin membaik, meski tidak akan berubah besar. Sebab, nilai dia, menurunkan rasio gini tidak bisa dilakukan secara cepat.

"Pemerataan sendiri diupayakan lewat sistem pajak dan subsidi/bansos yang lebih baik," tukasnya.

Guna meningkatkan pertumbuhan pada tahun depan, Denni berharap pmerintah bisa mengendalikan tingkat inflasi, khususnya dari bahan pokok dan barang yang diatur pemerintah (administered prices). Pemerintah juga mesti memastikan penggunaan APBN secara tepat waktu dan tepat alokasi.

Stabilisasi ekonomi di tengah tahun politik juga bisa diraih bila pemerintah tetap melanjutkan reformasi struktural dengan terus melakukan deregulasi dan memperbaiki iklim usaha. Pemerintah daerah harus diingatkan untuk melaksanakan paket-paket kebijakan guna mengerek investasi.

"Koordinasi Bank Indonesia dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga perlu diperkuat untuk menstabilkan rupiah dan membuat sistem keuangan kita makin sehat dan efisien," tuturnya.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, menyoroti efektivitas belanja negara sebagai kunci pendorong ekonomi Indonesia pada tahun depan. Menurutnya, belanja negara senilai Rp2.221 triliun harus benar-benar efektif, bukan sekadar mencapai penyerapan anggaran yang tinggi.

Enny berharap dana desa benar dimanfaatkan untuk menggali potensi dan pembangunan desa. Di samping itu, belanja barang juga harus dilakukan untuk memperbaiki birokrasi dan pelayanan kepada masyarakat.

"Kalau belanja barang efektif membuat pelayanan makin efisien dan cepat, kemudahan bagi dunia usaha akan terasa riil, tidak hanya sekedar peringkatnya saja yang naik, tetapi pengusaha tetap mengeluh," tukasnya.

Ia pun mengungkapkan kemudahan usaha belum sepenuhnya dirasakan di seluruh daerah. Kenaikan peringkat, kata Enny, hanya terjadi pada iklim usaha di DKI Jakarta dan Surabaya.

"Daerah lain tidak banyak perubahan. Itu yang membuat investasi kita termasuk rendah," paparnya.

Selain itu, pemerintah diharapkan tetap menjaga daya beli masyarakat pada tahun depan dengan menjaga kestabilan harga barang yang diatur pemerintah dan pangan. Sebab, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama perekonomian Indonesia.

"Listrik dan BBM sudah disebut tidak akan naik. Itu berita bagus, tapi jangan sampai kementerian lain malah menaikan tarifnya, misalnya tarif tol. Daya beli masyarakat ini harus dijaga betul kalau ingin investasi terus berjalan. Jangan sampai ada wait and see lagi dari pengusaha," imbuh Enny. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya