Pengembangan Tol Trans Sumatera Raih Sindikasi Rp8,067 T

Tesa Oktiana Surbakti
27/12/2017 20:35
Pengembangan Tol Trans Sumatera Raih Sindikasi Rp8,067 T
(ANTARA)

PROYEK pengembangan jalan tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar memperoleh suntikan dana kredit investasi.

Total sindikasi dari perbankan untuk menyokong proyek yang digarap PT Hutama Karya (Persero) itu mencapai Rp8,067 triliun.

Sebanyak 7 perbankan yang memberikan kredit mencakup Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BCA, Bank CIMB Niaga, Maybank Indonesia, Bank ICBC Indonesia dan Bank Permata. Adapun nilai investasi pembangunan ruas proyek tol yang masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) sebesar Rp16,7 triliun. Komposisi skema pemenuhan pembiayaan, yakni melalui ekuitas sebesar Rp8,7 triliun dan pinjaman (loan) sebesar Rp8 triliun.

“Kami laporkan bahwa proyek yang sudah closing itu ada 5 ruas. Di antaranya Bakauheni-Terbanggi Besar, Kayu Besar-Kayu Agung, Pematang Tangan-Kayu Agung, Palembang-Indralaya dan Medan-Binjai. Untuk progres Bakauheni-Terbanggi Besar sendiri sudah di atas 50%,” ujar Dirut Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra dalam penandatangan perjanjian pinjaman, di Jakarta, Rabu (27/12).

Lebih lanjut dia menjelaskan, perseroan telah memenuhi porsi ekuitas dari investasi tersebut melalui Penyertaan modal Negara (PMN) dan penjualan surat utang korporasi. Perseroan memperoleh PMN sebesar Rp2,2 triliun sepanjang periode 2015-2016.

Selanjutnya akhir 2016 menuju 2017, pihaknya menerbitkan surat utang yang berhasil meraup dana Rp6,5 triliun. Dengan begitu, total ekuitas proyek tersebut dapat diclose pada nilai Rp6,5 triliun.

“Setelah dipenuhinya porsi ekuitas, maka porsi loan (pinjaman) dipenuhi dengan pinjaman kredit investasi dari sindikasi 7 perbankan. Berikut PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebagai pemberi fasilitas cash deficiency support (CDS),” imbuh Putra.

Direktur Keuangan Hutama Karya Anis Anjayani mengemukakan, PT SMI akan menyediakan stand by loan guna menjamin pembayaran kewajiban perseroan kepada sindikasi perbankan. Dia mengakui, pendapatan dari tol Bakauheni-Terbanggi Besar pada awal masa operasi tidak akan sanggup memenuhi pengeluaran untuk operation and maintenance tol serta kewajiban pengendalian kredit. PT SMI mengalokasikan dana sebesar Rp7,5 triliun untuk fasilitas CDS.

“Kami mendapat dukungan fasilitas CDS dari PT SMI supaya perseroan tetap dapat memenuhi kewajiban. Tenor dari PT SMI adalah 25 tahun dengan grace period 15 tahun. Adapun grace period kredit dari sindikasi perbankan sendiri adalah 7 tahun dengan tenor selama 15 tahun juga,” jelas Anis.

Sebagai informasi, ruas Bakauheni-Terbanggi Besar merupakan bagian dari 24 ruas jalan tol Trans-Sumatera yang dikembangkan perseroan sejak 2015. Ruas tol sepanjang 140 kilometer (km) terbagi menjadi 9 seksi, yang keseluruhan ditargetkan rampung pada 2019.

Seksi 1 yakni Pelabuhan Bakauheni-Bakauheni Selatan berikut seksi 5 yaitu Lematang-Kotabaru, dinyatakan sudah selesai dan akan beroperasi dalam waktu dekat.

Dalam kesempatan itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap sindikasi yang diperoleh perseroan dapat segera dimanfaatkan untuk percepatan proyek, termasuk menyangkut pembebasan lahan. Terhadap PT SMI, pemerintah ingin lembaga pembiayaan infrastruktur milik negara tersebut lebih proaktif terlibat dalam skema pembiayaan berbagai proyek strategis.

“Ini pertama kali PT SMI berikan CDS. Saya senang PT SMI terus berinvestasi memfasilitasi pembangunan infrastruktur agar berjalan sesuai program dan tidak terkendala,” tutur Sri yang ditemani Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Adanya dukungan pembiayaan dari swasta juga diyakini berkontribusi mempercepat pengerjaan proyek tol Trans Sumatera. Pihaknya mengamini kebutuhan investasi proyek infrastruktur di luar Jawa terbilang besar. Namun jaminan dari APBN, lanjut dia, dapat memberikan kepercayaan bagi investor untuk ikut terlibat dalam pembiayaan.

Pemerintah memandang pembangunan infrastruktur tidak hanya mendukung aspek konektivitas, melainkan juga memberikan dampak dari segi ekonomi dan sosial.

“Dengan multiplier effect sekitar 2,23 kali, maka jumlah manfaat dari keseluruhan permanent impact-nya tol Trans Sumatera bisa mencapai Rp769,5 triliun. Jauh lebih besar dari nilai proyeknya sendiri. Lebih luas lagi manfaatnya di mana masyarakat bisa hemat biaya operasi. Dari proyek tol ini bisa memberikan keuntungan efisiensi (operasi) kendaraan Rp23,36 triliun per tahun,” terang Ani, sapaan akrabnya.

Nilai investasi proyek Tol Sumatera keseluruhan mencapai Rp360 triliun. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tidak menampik investasi yang ditelan proyek tersebut relatif besar, namun manfaat yang ditimbulkan jauh lebih besar. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya