Rating Tertinggi itu Kembali ke Pangkuan setelah 22 Tahun

Try/E-1
22/12/2017 10:08
Rating Tertinggi itu Kembali ke Pangkuan setelah 22 Tahun
(Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat -- MTVN/Dian Ihsan Siregar)

KENAIKAN peringkat utang Indonesia oleh Fitch Rating dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stable seperti mengembalikan Indonesia pada posisi 22 tahun yang lalu.

Peringkat yang disematkan Standard & Poor's pada 18 April 1995 itu merupakan peringkat tertinggi yang pernah diraih pemerintah sebelum jatuh terjerembap dalam pu-saran krisis ekonomi dan politik pada 1998.

Setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia dipuja-puji dan menyandang status sebagai the next Macan Asia, ekonomi Indonesia luluh lantak dihantam krisisi moneter. Peringkat utang Indonesia pun sempat jatuh pada titik terendah di level selective default atau berisiko gagal bayar pada 29 Maret 1999.

Membandingkan kondisi ekonomi Indonesia pada 1995 dengan di 2017 bukanlah hal yang tepat sebab saat itu perekonomian Indonesia bertumpu di fondasi yang lemah meski angka pertumbuhannya fantastis yakni 8,2%.

Saat ini pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 5%, namun fondasi yang dimiliki Indonesia lebih kukuh.

Jumlah rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto masih aman di level 30% dan defisit belanja negara tetap di bawah 3% sehingga jauh dari risiko untuk gagal bayar terhadap kewajiban yang dimiliki.

Oleh karena itu, pencapaian kembali peringkat tertinggi yang pernah dicapai Indonesia setelah melewati momen empat kali pemilu dan pergantian kepala negara ini dapat menjadi pemacu untuk tumbuh lebih baik lagi.

"Pencapaian ini cerminan dari keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang menjadi landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam keterangan tertulisnya.

Kenaikan peringkat itu langsung direspons positif oleh investor di pasar modal. Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat tajam 73 poin atau 1,21% dengan berada pada 6.183.

Penutupan kemarin menjadi rekor terbaru setelah penguatan dalam empat hari perdagangan terhenti pada perdagangan Rabu (20/12) karena aksi ambil untung.

Direktur BEI Samsul Hidayat pun optimistis atas kinerja pasar modal Indonesia tahun depan. Optimisme BEI itu harusnya juga menjadi optimisme bagi seluruh anak bangsa.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya