Indonesia Menuju Industrialisasi Berbasis Inovasi dan Teknologi

Kisar Rajaguguk
19/12/2017 22:02
Indonesia Menuju Industrialisasi Berbasis Inovasi dan Teknologi
(ANTARA)

DEINDUSTRIALISASI merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri. Kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus merosot dari 29% pada 2001 menjadi hanya 20,6% pada 2016 dengan kecenderungan yang masih menurun.

Faktor Inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab melemahnya perekonomian nasional, yang berdampak pada merosotnya penjualan listrik yang cukup signifikan.

Bahkan, ada dugaan angka penjualan 2017 tidak akan melebihi angka penjualan 2016 yaitu 2016 Twh. Padahal target PLN untuk 2017 adalah 235 Twh. Bila kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus menurun, Indonesia dalam ancaman perangkap pendapatan menengah atau middle income trap. Untuk keluar dari perangkap tersebut, sektor industri perlu tumbuh paling sedikit 1,5% di atas pertumbuhan ekonomi.

“Sayangnya, dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan sektor industri sudah berada di bawah pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, sektor industri tidak akan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang telah direncanakan dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional,” ungkap Ketua Pokja ESDM Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI Zulnahar Usman di kota Depok, Selasa (19/12).

Indonesia, ungkap Zulnahar, bisa mencontoh Korea Selatan yang sukses menjalankan industrialisasinya. Pada proses menuju negara industri maju, sangat jelas terlihat bahwa listrik, industri, dan PDB Korea Selatan saling terkait satu sama lain dalam sebuah hubungan kausalitas yang sangat erat.

Sebagai gambaran, pada 1950-an, nilai PDB per kapita Korea Selatan berada pada posisi yang hampir sama dengan Indonesia di kisaran US$800 per kapita. Kemudian pada 1970-an- pada saat Korea Selatan mulai melakukan program industrialisasinya- nilai PDB per kapita Korea Selatan tidak berbeda jauh dengan Indonesia yakni US$2.800. Pada saat yang sama, nilai PDB per kapita Indonesia sebesar US$1.500. Namun, 30 tahun kemudian, ekonomi negeri ginseng ini menembus angka US$20 ribu, sementara Indonesia masih berada di level US$3.000.

“Padahal Korea Selatan dan Indonesia pada 1950-an, berada pada posisi yang relatif sama. Tapi pencapaiannya jauh melebihi Indonesia,” ungkap Zulnahar.

Menurutnya, Korea Selatan mengandalkan program industri yang terstruktur dan masif. Mereka mengandalkan industri berat dan berteknologi maju atau industri yang selain padat investasi juga padat teknologi. Sedangkan, pada periode yang sama, Indonesia justru mengembangkan industri yang bersifat padat karya dengan nilai tambah yang rendah. “Itu yang membedakannya,” tegasnya.

Menurut Zulnahar Usman, pelajaran penting dari proses industrialisasi Korsel adalah listrik berperan dalam menumbuhkan PDB per kapita. Faktor inilah yang belum disadari pemerintah. Terlihat secara jelas pada saat PDB per kapita masih rendah, listrik dapat dikatakan menjadi penyumbang utama terhadap PDB melalui industri manufaktur.

Namun, ketika PDB per kapita sudah tumbuh di atas US$10 ribu, kontribusi listrik menjadi berkurang karena ekonomi kian bertambah kompleks. Tanpa ada pasokan listrik yang tersedia dalam jumlah besar dan terjangkau, tidak mungkin Industri dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Pada titik ini, jika Indonesia ingin lolos dari ancaman middle income trap dan loncat menjadi negara maju, nilai PDB per kapita Indonesia harus tembus di atas US$6.000 pada 2025 dengan konsumsi listrik di atas 2000 KWh per kapita.

“Satu-satunya cara adalah harus menumbuhkan industri secara cepat, terstruktur dan masif. Harus ada program quick win yang fokus pada satu industri saja, dan dapat dilakukan dalam sisa waktu pemerintahan yang secara cepat dapat membangkitkan ekonomi seperti industri pertambangan serta produk hilirisasi tambang dan kemudian di teruskan dengan program jangka panjang yang berkelanjutan bersifat padat investasi dan teknologi,” tandasnya.

Menurutnya, industri yang berbasis teknologi dan inovasi adalah kunci untuk Indonesia menjadi negara maju dan besar. Tak dapat di sangkal bahwa Industri yang akan mendominasi dunia adalah elektronik, dan tidak ada satupun elektronik yang tidak membutuhkan logam tanah jarang, yang saat ini hampir 90% di pasok dari Tiongkok.

Padahal, Indonesia memiliki sumber daya logam tanah jarang sebagai mineral ikutan dalam timah, dan monazite yang diduga cukup besar yang dapat menjadikan Indonesia sebagai Saudi Arabianya logam tanah jarang.

Pemisahan logam tanah jarang dari monazite akan menghasilkan thorium, yang dapat dijadikan sumber bahan bakar dari pembangkit listrik tenaga thorium yang bersih tanpa emisi, memiliki densitas energi jauh lebih besar dibandingkan fosil dan dengan biaya murah.

“Thorium tidak dapat disangkal akan menjadi energi masa depan. Dan logam tanah jarang akan menjadi komoditas yang akan lebih strategis dari minyak, keduanya dapat dijadikan prioritas industri nasional menuju industri nasional berbasis inovasi dan teknologi,” pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya