Teliti sebelum Berinvestasi

Dinny Mutiah
13/3/2015 00:00
Teliti sebelum Berinvestasi
(ANTARA/MUHAMMAD IQBAL)
PRAKTIS, harga terjangkau, fasilitas lengkap, mudah disewakan, mudah dijual, dan iming-iming peningkatan nilai investasi, merupakan sederet alasan yang mendorong Ardit W Abdulrahman berinvestasi di properti apartemen.

Sejak memulai usaha pada 2010 silam, Ardit kini telah mengelola 20 unit yang kebanyakan disewakannya kepada peminat.

Sebagian lainnya dijual untuk kembali diputarkan demi pengembangan usaha.

"Mayoritas penghuni apartemen adalah penyewa. Biasanya, mereka yang kerja di perkantoran dekat apartemen. Meski ada juga yang dari kalangan pejabat dan mahasiswa dari kampus sekitar," paparnya kepada Media Indonesia di Jakarta, Selasa (10/3), saat ditanya alasan berinvestasi apartemen.

Berdasar pengalaman Ardit, harga sewa apartemen umumnya meningkat 10% per tahun dari nilai aset.

Harga yang tinggi itu, kata dia, dianggap sebanding dengan waktu perjalanan yang bisa dihemat.

Kelebihan lainnya adalah harga per meter apartemen tidak terlalu berbeda dibandingkan harga per meter rumah tapak yang letaknya di pinggiran kota.

"Modalnya sebenarnya tidak besar karena kita hanya membeli 35 meter persegi di pusat kota dibandingkan rumah tapak yang minimal harus 80 meter persegi di Depok. Padahal, harga per meter hampir sama," sahutnya.

Meski begitu, sambungnya, properti itu bernilai jika memiliki prospek pengembangan masa depan yang bagus.

Indikasinya terlihat dari letaknya yang strategis, seperti dekat pusat perniagaan dan rencana pembangunan fasilitas penunjang.

Yang tidak kalah penting ialah pengembang properti itu memiliki latar belakang yang tepercaya.

"Info itu bisa dicari lewat media massa, hasil survei, catatan kasus, dan dari proyek-proyek yang pernah ditangani. Menurut saya, 2-4 minggu cukup untuk mencari referensi," imbuhnya.

Modal relatif

Terkait modal, Ardit menyebut Rp300-Rp400 juta merupakan nominal yang harus tersedia untuk bisa berinvestasi di apartemen.

Karyawan bergaji di atas Rp9 juta dianggap mampu untuk memasuki bisnis ini, kecuali jika dia membeli properti di daerah.

Itu pun dengan catatan jika daerah tersebut memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan luas lahan terbatas.

"Di Jakarta itu, daerah Kalimalang atau Lenteng Agung, masih bagus karena tidak terlalu jauh dari pusat kota. Tapi, kalau di daerah yang lahannya masih banyak, sebaiknya beli rumah tapak saja," terangnya.

Hal senada disampaikan Direktur Ciputra Development Tulus Santoso.

Menurut dia, investasi di apartemen cukup prospektif hingga beberapa tahun ke depan karena harganya akan meningkat setiap tahun.

Bahkan, tingkat pengembaliannya bisa mencapai 100% jika Anda membeli unit apartemen sebelum proyeknya dimulai.

Tentu saja, hal itu bergantung pada lokasi.

"Lokasi yang strategis akan meningkatkan nilai jual apartemen untuk tahun-tahun ke depan. Anda bisa mulai menyewakannya kepada orang lain dengan sistem sewa tahunan, harian, maupun bulanan," cetusnya.

Berisiko
Meski begitu, berinvestasi di apartemen mengandung risiko tinggi.

Tingginya persaingan akibat banyaknya pembangunan apartemen baru menjadi salah satu tantangan.

Misalnya, Imanuddin, 27, yang mengaku kesulitan mendapatkan penyewa dalam dua tahun terakhir.

"Memang masih menjanjikan, tapi sekarang udah enggak seantusias dulu karena dengar-dengar, banyak apartemen yang bermasalah. Dari masalah sertifikat kepemilikan sampai ada kasus yang membuat image apartemen jelek," tuturnya dalam kesempatan berbeda.

Masalah lainnya adalah menghadapi penyewa nakal.

Yang paling sering adalah tidak apiknya dalam menggunakan barang sewaan.

Berhubung apartemen miliknya fully-furnished, ia tidak jarang mendapati kerusakan pada perabot yang dipinjamkan. Untuk itu, ia harus mengeluarkan Rp5 juta-Rp8 juta untuk memperbaiki kerusakan yang timbul.

"(Biayanya) bisa sampai 10% dari biaya sewa. Enggak terlalu nutup sih (uang sewanya), tapi masih bisa diatasi sejauh ini," ujarnya.

Belajar dari pengalamannya, ia berupaya untuk mengantisipasinya dengan meminta uang jaminan di muka dan surat perjanjian yang sah. Ia juga selalu membuat salinan identitas penyewa sebagai pegangan.

"Kalau penyewanya nakal, kita siap lapor. Tapi, kita biasanya juga lihat-lihat orangnya juga," tukasnya. (Irm/S-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya