Menjaga Inflasi, Membangun Optimisme Ekonomi

Ferdinand
23/11/2017 12:33
Menjaga Inflasi, Membangun Optimisme Ekonomi
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

MEDIA massa memiliki peran signifikan untuk menyokong pembangunan suatu negara. Informasi yang disampaikan melalui pemberitaan diharapkan melahirkan ekspektasi atas kondisi perekonomian yang salah satunya tercermin dari tingkat inflasi rendah.

Indonesia saat ini telah memasuki era inflasi rendah. Dalam tiga tahun terakhir angka inflasi nasional berada di kisaran 3%. Inflasi rendah dan stabil merupakan sebagai prasayarat mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Sekretaris Tim Pengendali Inflasi Pusat, Iskandar Simorangkir menyebutkan, inflasi Oktober 2017 mencapai 0,01% month on month (mom), 3,58% year on year (yoy), dan 2,67% year to date.

Inflasi pangan terus mengalami penurunan sejak awal tahun dan mulaidapat dikendalikan dengan semakin intensnya koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stok.

"Secara keseluruhan tingkat inflasi nasional relatif terkendali," kata Deputi Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu pada Pelatihan Wartawan Daerah 2017 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Jakarta 20-21 Nopember lalu.

Wartawan melalui karya jurnalistiknya diharapkan membantu menjaga dan meningkatkan capaian tersebut dengan cara meredam opini negatif. Insan pers untuk itu diminta menyajikan pemberitaan yang berimbang dan menggunakan sumber data yang valid.

Pemberitaan yang mengandung unsur memicu kepanikan seperti adanya harga komoditas pangan yang melonjak tentunya berdampak pada psikologi masyarakat selaku konsumen. Publik akan memborong komoditas pangan dan dikhawatirkan berujung pada kelangkaan dan kenaikan harga yang lebih tinggi.

Penduduk miskin sangat rentan terhadap kenaikan harga khususnya kelompok makanan. Secara nasional kontribusi komponen makanan terhadap garis kemiskinan 73,19%. Apabila terjadi kenaikan harga beras 10%, terjadi penambahan 1,2 juta orang miskin baru. Jika angka inflasi naik 1%, akan ada 11 juta orang miskin baru.

Inflasi yang tinggi juga akan menurunkan daya beli masyarakat dan kesenjangan pendapatan melebar, menghambat investasi produktif, menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, serta berkurangnya daya saing produk nasional.

"Insan pers diharapkan membantu pemerintah mengedukasi masyarakat melalui informasi akurat dan berimbang tanpa harus kehilangan daya kritisnya. Kritik membangun sangat kami harapkan, karena tanpa itu kami bisa terlena," imbuh Iskandar.

Pentingnya menjaga inflasi juga disampaikan Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Yoga Affandi. Dia menegaskan, inflasi yang rendah dan stabil memberikan peluang untuk mempertahankan tingkat suku bunga rendah yang pada akhirnya akan mengurangi beban fiskal.

Angka inflasi dan suku bunga rendah dalam tiga tahun terakhir itu memberikan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, kedua hal itu akan mendorong laju sektor riil yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan pendapatan per kapita.

Saat ini pendapatan per kapita Indonesia sebesar US$3.600 per tahun, masih kecil bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura yang sudah US$5.164 dan Malaysia US$9.566.

"Kalau pendapatan per kapita naik dan inflasi rendah kita bisa mengejar mereka. Angka kemiskinan dan pengangguran bisa dikurangi," tuturnya.

Pendapat senada juga disampaikan pengamat ekonomi dari Samuel Sekuritas Lana Soelistyoningsih. Menurutnya, inflasi tinggi dapat mengakibatkan terjadinya gejolak politik dan keamanan. Indonesia pada era 1997-1998 juga pernah mengalami kondisi seperti itu.

Pemahaman Perlu Ditingkatkan agar dapat membantu Pemerintah menjaga inflasi, wartawan harus memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Alasan inilah yang menjadi latar belakang Bank Indonesia menggelar pelatihan bagi wartawan yang bertugas di daerah.

Pelatihan kali ini diikuti oleh 580 wartawan yang berasal dari 46 daerah yang memiliki kantor perwakilan Bank Indonesia. Tema yang diangkat ialah Pengendalian Inflasi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat.

Asisten Gubernur Bank Indonesia Bidang Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola, Dyah Nastiti yang membuka pelatihan itu berharap kegiatan ini semakin meningkatkan pemahaman wartawan terhadap isu-isu di bidang perekonomian. Seperti inflasi, elektronifikasi sistem pembayaran, dan kebijakan makro prudensial.

Harapan senada juga dikemukakan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman. Media massa selain menyuarakan masyarakat juga diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan kebijakan otoritas, utamanya terkait pengendalian espektasi inflasi.

Pemahaman yang baik akan menjadikan pandangan terhadap perekonomian lebih komprehensif, sehingga informasi yang disampaikan mampu mencerahkan masyarakat. Peran dan kontribusi wartawan untuk membantu menjaga inflasi tetap rendah dalam rangka membangun optimisme ekonomi negeri ini sangat diharapkan. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya