Pemerintah Optimistis Target Pertumbuhan Ekonomi Tercapai

Tesa Oktiana Surbakti
25/10/2017 22:27
Pemerintah Optimistis Target Pertumbuhan Ekonomi Tercapai
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

PEMERINTAH optimistis mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4% sebagaimana tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Optimisme tersebut didukung sejumlah komponen seperti konsumsi rumah tangga (RT), investasi dan kinerja perdagangan melalui ekspor.

"Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4% di 2018, kami harap konsumsi RT tetap stabil 5%, investasi (tumbuh) di atas 6% dan ekspor pertumbuhannya juga 'swing'," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers terkait APBN 2018, Rabu (25/10).

Menilik capaian semester I 2016, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 5%, investasi melalui pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 5,1% dan kinerja perdagangan internasional diketahui positif dengan ekspor tumbuh 5,8% dan impor tumbuh 2,8%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan diproyeksi membaik sebagai kelanjutan dampak sektor domestik yangs sehat dan dukungan pemerintah melalui aktivitas yang menunjang produktivitas seperti infrastruktur. Alokasi pendapatan negara pada 2018 sebesar Rp1.894,7 triliun dan belanja negara Rp2.220,7 triliun. Sehingga, defisit anggaran dipatok 2,19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau Rp325,9 triliun.

"Dengan defisit anggaran 2,19%, manajemen utang negara kita kelola hati-hati dengan memperhitungkan kemampuan membayar," imbuhnya.

Senada, ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness, Eric Sugandi, berpendapat target pertumbuhan ekonomi 5,4%0 berpotensi tercapai. Dengan catatan konsumsi rumah tangga tetap kuat, investasi tumbuh lebih cepat dan harga komoditas ekspor Indonesia di pasar global membaik.

Namun, dia memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan berkisar 5,3%. Eric pun turut mengkritisi capaian inflasi 2018 yang diprediksi melampui asumsi pemerintah 3,5%.

"Yang saya lihat sangat optimistis itu di asumsi inflasi 3,5%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tahun depan, nilai tukar Rupiah melemah dibandingkan tahun ini serta kenaikan harga komoditas, inflasi tahun 2018 bisa capai 4%," tutur Eric saat dihubungi.

Sebaliknya, ekonom INDEF, Bhima Yudhistira, berpendapat, sulit bagi pemerintah untuk menggapai target pertumbuhan ekonomi 5,4% di tahun politik. Dalam situasi tersebut, pelaku usaha dipandang cenderung 'wait and see'.

Risiko menancapkan target pertumbuhan ekonomi yang 'over estimate' berpotensi menyebabkan realisasi penerimaan pajak meleset dari target. Penerimaan perpajakan pada 2018 ditargetkan Rp1.618,1 triliun dengan target pajak secara spesifik sebesar Rp1.385,9 triliun.

"Angka pertumbuhan ekonomi 5,4% memang sulit tercapai apalagi konteksnya tahun politik. Beberapa pengusaha dan investor cenderung 'wait and see' di tahun politik. Sementara harapannya ada di belanja pilkada yang sebenarnya tidak terlalu signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Bhima. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya