Kilau Nanas di Hutan Gambut Bengkalis

Cahya Mulyana
18/10/2017 11:34
Kilau Nanas di Hutan Gambut Bengkalis
(Ilustrasi -- MI/Aries Munandar)

BENCANA kebakaran lahan dan hutan (karhutla) memberi hikmah bagi masyarakat Sei Pakning, Bengkalis, Riau.

Lahan gambut seluas 6 hektare yang terbakar pada 2012, kemudian ditanami nanas oleh masyarakat bersama PT Pertamina Refinery Unit (RU) II Production Sei Panking. Ternyata hasilnya mampu memberikan nilai ekonomi tinggi.

"Sejak program pengembangan kawasan pertanian nanas terintegrasi ini dilakukan, 2017 tercatat telah terjadi peningkatahan lahan pertanian nanas seluas 4,5% dengan potensi pendapatan kelompok mencapai Rp20juta per bulan dari penjualan hasil pertanian dan produk olahan nanas," papar General Manajer PT Pertamina RU II Otto Gerentaka, di Bengkalis, Riau, Rabu (18/10).

Menurutnya, Pertamina RU II bersama LPPM Universitas Sebelas Maret melakukan pendampingan bagi kelompok tani mengalihfungsikan lahan semak belukar. Area yang sebelumnya merupakan bekas lahan kebakaran diubah menjadi pertanian nanas gambut, dan melakukan diversifikasi produk olahan nanas.

Awal program ini hanya menggunakan lahan 3 ha dengan tiga petani dan 10 petani penggarap. Hasil panen mencapai 10.000 buah per ha dengan kualitas grade A-B (85%) dan C (15%), dengan total pendapatan kelompok dari pejualan mencapai Rp 17 juta.

“Hingga saat ini, upaya budi daya tanaman produktif cukup menjanjikan dan tahun yang akan datang diproyeksikan luasnya menjadi 15 ha. Pertamina berharap muncul sentra pertanian nanas gambut yang dapat menjadi ciri khas di wilayah Sungai Pakning,” harap Otto.

Pada kesempatan sama, Ketua Kelompok Tani Tunas Makmur Samsul mengatakan, sebagai kelompok tani mitra binaan Pertamina program alih fungsi lahan gambut sangat menguntungkan. Bahkan masyarakat menjadi lebih termotivasi untuk mengalihfungsi lahan semak menjadi pertanian nanas karena ada nilai tambah yang cukup besar.

Kelompok Tani Tunas Makmur yang dipimpinnya beranggotakan 27 orang, dan sehari-hari menjalankan kegiatan Pertanian. Sementara kelompok perempuan memproduksi produk nanas olahan. Produk unggulan kelompok tani mereka adalah keripik nanas gambut dan manisan nanas.

Menurut Samsul, masyarakat Sei Pakning, Bengkali, termasuk Kelompok Tani Tunas Makmur melakukan kegiatan pengelolaan lahan dengan memanfaatkan lahan yang bersifat kritis menjadi bernilai produktif. Misalnya pengelolaan lahan perkebunan cabai dan pisang di daerah Batang Duku seluas 2 ha. Selanjutnya pengelolaan kebun nanas di Desa Kampung Jawa berkisar 8 ha.

“Kami bersyukur bencana yang dulu menyimpan duka, kini menjadi harapan kesejahteraan untuk masa depan kampung Sei Pakning,” pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya