Optimalisasi Teknologi untuk Ketahanan Garam Nasional

Muhammad Fauzi
16/10/2017 22:57
Optimalisasi Teknologi untuk Ketahanan Garam Nasional
(Ist)

INDONESIA pernah mengalami kekurangan pasokan garam nasional. Hal itu memaksa pemerintah melakukan impor dari Australia.

Untuk mengurangi pasokan garam impor, pemerintah harus melakukan penguatan pegaram rakyat demi memenuhi kebutuhan garam nasional. Ahli garam nasional Sudarto mengungkapkan, terjadinya kelangkaan garam nasional disebabkan pegaram industri nasional dan pegaram rakyat memproduksinya bergantung pada musim. Selain itu teknologi pengolahan garam yang masih konvensional.

“Pegaram nasional kita belum menggunakan teknologi tepat guna, sehingga hasilnya belum maksimal,” kata Sudarto dalam keterangan di Jakarta, Senin (16/10).

Doktor garam jebolan Universitas Diponegoro ini mengungkapkan lahan garam yang dimiliki pegaram rakyat cukup luas, sekitar 20 ribu sampai 25 ribu hektare (ha). Sedangkan lahan yang dimiliki PT Garam hanya berkisar 5.500 ha. Ini menunjukkan pemerintah harus melakukan penguatan teknologi bagi pegaram rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan garam nasional.

Sudarto mengatakan, kendala yang dihadapi pegaram rakyat antara lain, keterbatasan teknologi, sarana dan prasarana, infrastruktur, dan kualitas SDM pegaram. Maka, dia menyarankan pemerintah turun tangan melakukan pembenahan industri pegaraman nasional dan pegaram rakyat.

Sebab, tuturnya, kualitas pegaram rakyat belum sepenuhnya memenuhi standar kualitas garam produksi. Yaitu harus memiliki kadar NaCl (Natrium Klorida) 90–97. Untuk mendukung kebutuhan garam nasional dengan kadar tersebut diperlukan sistem produksi pegaraman yang lebih baik.

“Harus dipenuhi standar produksi pegaraman yang baik untuk memperoleh kualitas dan kuantitas garam yang baik,” ujarnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya