Butuh Kompetensi Mumpuni untuk Bersaing

10/8/2017 22:49
Butuh Kompetensi Mumpuni untuk Bersaing
(ist)

PERSAINGAN dalam dunia kerja bukan hal yang bisa diatasi semudah membalik telapak tangan. Butuh kompetensi dan kualitas mumpuni.

Itu sebabnya Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jawa Timur terus berupaya meningkatkan kompetensi dan kualitas SDM di provinsi ini. Hal ini dilakukan agar tenaga kerja di Jatim bisa bersaing walau dengan tenaga kerja asing sekalipun.

“Untuk itulah perlunya bekal keahlian yang harus dimiliki. Tujuannya agar mereka bisa memenuhi persyaratan yang dibuat industri dan lebih bisa bersaing,” ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti dalam keterangannya, kemarin.

Kadin Jatim saat ini sudah menggandeng BKSP untuk membantu dalam masalah sertifikasi. Itu sebabnya pada pekan lalu digelar acara peningkatan kerja sama BKSP, Kadin Jatim dan IHK Trier di Graha Kadin Jatim, Surabaya.

Sayangnya, tingkat pendidikan SDM tenaga kerja di Indonesia sebagian besar (63,2%) didominasi pendidikan dasar. Data BKSP Jatim menunjukkan tenaga kerja yang cuma lulusan SD pada 2017 mencapai 10,60 juta tenaga kerja atau lebih dari 50% dari jumlah angkatan kerja di Jatim sekitar 20,62 juta. Sementara yang lulus SLTP mencapai 3,54 juta, lulusan SLTA 2,71 juta, SLTA Kejuruan 2,06 juta, dan lulusan diploma serta universitas 1,69 juta.

Pada 2018, jumlah angkatan kerja diproyeksikan mencapai 20,78 juta jiwa dengan perincian lulusan SD (10,58 juta), SLTP (3,53 juta), SLTA (2,74 juta), SLTA Kejuruan (2,14 juta), dan diploma serta universitas 1,76 juta tenaga kerja. Padahal perusahaan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi tinggi (knowladge, attitude, dan skill).

“Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Jatim telah mencanangkan target peningkatan rasio tenaga kerja yang lulus dari SLTA Kejuruan akan semakin banyak. Pada 2010, rasio lulusan SMA berbanding SMK mencapai 46,52 berbanding 53,48. Kemudian 2015 naik menjadi 37,98:62,02. Dan di 2019 menjadi 30:70,” terang Ketua BKSP Jatim Adik Dwi Putranto.

Pada 2016, jumlah industri di Jatim mencapai 813.140 unit yang terdiri dari industri logam, mesin, tekstil dan aneka (ILMTA), industri agro, industri alat transportasi, elektronika, dan telematika dengan nilai investasi sebesar Rp67,99 triliun, dengan nilai produksi Rp215,149 triliun. Jumlah tenaga kerja yang bisa terserap mencapai 3.163.511.

Selain itu, bersama Kadin Jatim dan Diknas Jatim, BKSP telah menjalin kerja sama dengan Kadin Jerman atau IHK Jerman untuk menerapkan metode pembelajaran dual system atau Sistem Ganda di seluruh SMK di Jatim.

“Struktur Sistem Ganda di Jerman dibatasi pada empat aspek, yaitu pemilahan tanggungjawab untuk pendidikan/pengajaran teori dan pelatihan praktik, pembagian waktu pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, pengorganisasi pendidikan dan pelatihan serta konsentrasi pada mata pelajaran utama dalam pembelajaran teori,” papar Adik.

Sementara itu, Koordinator Program IHK Trier Andreas Gosche berharap DUDI lebih aktif lagi dalam pelaksanaan program ini. Tidak hanya dengan mengirimkan pelatih industri saja, tetapi juga ikut serta dalam pembahasan dan penentuan kurikulum yang akan dijadikan rujukan agar singkronisasi antara dunia pendidikan dan DUDI bisa terjalin.

“Ada tiga poin penting dalam keberhasilan paksanaan program vokasi sistem ganda ini, pertama pelaku harus profesional. Kedua, kurikulum harus diselaraskan dengan kebutuhan industri. Dan ketiga harus ada hubungan dan wadah di mana kedua pihak, pendidikan dan dunia usaha serta industri bisa bertemu. Di Jatim sudah dibentuk Pokmi atau Kelompok Mitra yang selalu bertemu untuk menyelaraskan langkah,” tandas Gosche. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya