PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)
belum akan menaikkan tarif listrik, khususnya tarif listrik industri,
kendati biaya operasional membengkak. Direktur Utama PLN Sofyan Basir
menegaskan hal itu ketika ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.
"Memang
ada masalah kurs, BBM (harga bahan bakar minyak) yang naik sedikit.
Namun, menurut saya, tiga bulan ke depan kita belum berencana menaikkan
tarif listrik (industri)," kata Sofyan.
Sofyan mengaku bingung
dengan kabar tarif listrik akan naik per 1 April. PLN justru sedang
memikirkan cara menurunkan tarif listrik perlahan-lahan. Penurunan tarif
listrik nantinya akan berlaku ke semua industri.
"Supaya animo
para pengusaha dan investor bisa lakukan perluasan. Kan tujuannya untuk
(ciptakan lapangan) pekerjaan, pengangguran dikurangi," tambah Sofyan.
Di
sisi lain, melemahnya nilai tukar rupiah telah membuat kerugian kurs
mencapai Rp1,3 triliun dalam periode 4-5 bulan terakhir. Untuk
mengatasinya, Sofyan menegaskan PLN belum akan menempuh penaikan tarif.
PLN
akan melakukan efisiensi di internal perusahaan. Efisiensi antara lain
dengan mengganti bahan bakar diesel dengan gas dan memaksimalkan
kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Salah satunya,
sebut Sofyan, PLTU di Buleleng, Bali, yang baru saja rampung
pembangunannya. Pengoperasian PLTU tersebut akan mengurangi biaya BBM
untuk wilayah Bali.
Pada periode 2014, PLN tercatat meraih laba
Rp11,7 triliun, berbalik dari 2013 yang membukukan kerugian Rp26,2
triliun. Kenaikan laba bersih didapat dari peningkatan laba usaha dan
laba selisih kurs. PLN mencatat laba selisih kurs Rp1,3 triliun atau
jauh lebih baik ketimbang pada 2013 yang mengalami rugi selisih kurs
Rp48,1 triliun.
Kerugian itu terutama diakibatkan translasi
liabilitas dalam mata uang asing yang didominasi dolar AS dan yen. Kini
rugi kurs kembali membayangi.
Problem rupiah Dalam kaitan
nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, ekonom Faisal Basri berpendapat
fundamental perekonomian semestinya mendorong rupiah menguat, bukan
sebaliknya seperti saat ini.
"CAD (defisit neraca transaksi
berjalan) membaik, capital account akan tetap surplus. Logikanya rupiah
seharusnya menguat," kata Faisal Basri dalam diskusi J-Club, di Jakarta,
kemarin
Defisit sektor minyak dan gas (migas) Indonesia tahun
ini sebesar US$10,6 miliar dengan asumsi US$75 dolar per barel dan
pertumbuhan otomotif sekitar 5%. Jumlah itu, menurut Faisal, turun
drastis dari tahun sebelumnya yang mencapai US$27,3 miliar. Defisit
migas menjadi penyebab membengkaknya CAD.
Faisal juga mengatakan
transaksi perdagangan Indonesia surplus selama dua bulan secara
berturut-turut. Kondisi tersebut diproyeksikan terjadi hingga akhir
tahun setelah tiga tahun sebelumnya selalu mengalami defisit. Kestabilan
inflasi juga semestinya menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS.
Faisal meyakini investor asing akan tetap menempatkan dana
mereka di Indonesia sebagai negara berkembang walaupun bank sentral
Amerika Serikat (The Federal Reserve) diperkirakan menaikkan suku bunga
25 basis poin pada Juni tahun ini.
Namun, ekonom Bank Permata
Josua F Pardede menuturkan angka CAD yang masih defisit, kendati
menurun, tetap menjadi biang keladi melemahnya kurs rupiah. "Barang dan
jasa masih defisit menjadi pemicu memburu dolar AS," paparnya.
Apalagi,
Bank Sentral Eropa merilis kebijakan akan menerbitkan stimulus 60
miliar euro per bulan. Pernyataan itu menyulut perpindahan aset ke dolar
AS.