Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMENTUM Hari Raya Lebaran semestinya dirasakan manis oleh seluruh pihak. Namun, pada kenyataannya tidak bagi para pengusaha ritel.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan konsumsi ritel pada Lebaran tahun ini sedang terpuruk. Kondisi itu diakuinya sudah terjadi sejak dua tahun belakangan ini.
"Kami sedang terpuruk karena situasi ritel sekarang sedang lesu," ucap Roy melalui sambungan telepon, Rabu (28/6).
Pada Lebaran tahun lalu, pertumbuhan konsumsi ritel mencapai 5%-6%. Namun, situasi itu dinilainya tidak akan terjadi pada tahun ini. Pasalnya, kinerja pertumbuhan ritel selama awal Ramadan lalu justru menurun dari 4,1% pada April 2017 menjadi 3,6% pada Mei 2017.
"Saya dapat kabar dari teman-teman ritel kalau situasi rendahnya konsumsi masih berlanjut sampai awal Juni. Data belum kami peroleh secara menyeluruh, tapi informasi dari lapangan seringkali stok masih penuh," tukas Roy.
Tren kelesuan konsumsi itu meliputi hampir seluruh jenis barang ritel, seperti makanan, minuman, dan pakaian.
Roy menduga kondisi terpuruknya ritel disebabkan oleh perubahan pola berbelanja masyarakat dari yang biasanya berbelanja bulanan menjadi sesuai kebutuhan. "Perubahan pola ini berpengaruh sampai ke Lebaran karena itu tadi, minggu pertama hingga kedua puasa pertumbuhannya tidak baik," ujarnya.
Berbagai faktor dinilai mempengaruhi kondisi itu. Roy menilai ada sentimen negatif di dalam diri masyarakat terhadap kondisi politik, sosial, dan ekonomi Indonesia. Masyarakat dipandang makin kurang percaya pada kinerja pemerintah, meski indikator-indikator makro ekonomi Indonesia tercatat membaik.
"Kondisi makro Indonesia bagus, kredit macet perbankan juga menurun, tapi kenapa mikronya jelek? Artinya, ada variabel yang tidak terukur di sana, yaitu sentimen masyarakat terhadap negeri ini," papar Roy.
Senada, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyebut ada ketidaksinkronan antara kondisi makro dan mikro ekonomi Indonesia. Pasalnya, penjualan makanan dan minuman (mamin) di momen krusial seperti Lebaran pada kenyataannya tidak menggembirakan. Stok mamin di berbagai perusahaan dan retail tercatat berlebih, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu ludes.
"Data belum dikonsolidasikan, tetapi menurut laporan beberapa perusahaan dan retailer, Lebaran kali ini tidak sebaik tahun lalu. Stok sebelum-sebelumnya selalu habis," ucap Adhi.
Dia menilai daya beli masyarakat saat ini melemah dan ada pola belanja yang berubah, sehingga masyarakat tidak berbelanja lebih saat Lebaran. Padahal, industri mamin biasanya meraup untung lebih besar hingga 30% pada bulan Ramadhan hingga Lebaran dari bulan-bulan biasanya. Namun, Adhi pesimistis kondisi itu akan kembali terulang pada Lebaran tahun ini.
"Saya kira ini peringatan ke semua karena ada yang tidak nyambung antara makro dan mikro ekonomi. Indikator makro semua bagus dan Indonesia baru dapat investment grade, tapi kami di sektor riil merasakan hal yang berbeda," imbuh Adhi. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved