Gulung Tikarnya 7-Eleven Disebabkan Persoalan Internal

Tesa Oktiana Surbakti
28/6/2017 13:32
Gulung Tikarnya 7-Eleven Disebabkan Persoalan Internal
(MI/Ramdani)

PELAKU bisnis ritel, 7-Eleven, yang sempat menjamur di berbagai wilayah akhirnya rontok. Bahkan PT Modern Sevel Indonesia (MSI) selaku pengelola, memutuskan untuk menghentikan operasional seluruh gerai per 30 Juni tahun ini.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpendapat berhentinya bisnis 7-Eleven tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Bisnis ritel pun disebutnya masih prospektif. Alasannya, di balik matinya satu bisnis perusahaan ritel, terdapat sejumlah perusahaan yang terus menggencarkan ekspansi dengan pola franchise.

Menurut Airlangga, yang menimpa 7-Eleven tidak lepas dari persoalan internal perusahaan, khususnya terkait strategi bisnis. Perusahaan dinilai terlalu agresif membuka gerai namun tidak diiringi dengan pengelolaan yang mumpuni.

Bisa juga dikatakan bisnis 7-Seleven terguncang lantaran pemegang saham yang kurang berkukuh mempertahankan investasinya. "Sebenarnya 7-Eleven sudah beberapa kali attempt to Indonesian market."

Pertama kali masuk sempat mengalami hambatan. Lalu yang kedua kali ini sangat agresif. Kita lihat ada banyak faktor yang memengaruhi bisnis perusahaan, mulai dari business planning-nya, pengelolaan, sampai pemegang saham," ujar Airlangga, Senin (26/6).

Penutupan gerai 7-Eleven juga menjadi cerminan kekecewaan para pemegang saham terhadap realita yang tidak sesuai dengan proyeksi bisnis. Terutama mengenai tingkat rasio profitabilitas atau return on investment. Apalagi tiap investor memiliki time frame yang berbeda-beda.

Sebelumnya beredar kabar meredupnya bisnis 7-Eleven sebagai imbas dari kebijakan larangan penjualan minuman beralkohol sejak April 2015. Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol.

Kebijakan itu disebut mengganggu penjualan salah satu produk unggulan dari bisnis ritel tersebut. Airlangga berdalih kebijakan pemerintah bukan menjadi penyebab utama dari gulung tikarnya 7-Eleven.

"Kalau lihat dari kebijakan itu disebut berdampak jika kena ke beberapa player. Ini kan hanya satu player saja. Menurut saya ini business case, murni persoalan perusahaan swasta yang tidak mencerminkan keuntungan. Apalagi ketika market share tidak sesuai harapan," imbuhnya.

Namun, kasus yang dialami 7-Eleven tidak sekadar menjadi angin lalu. Pemerintah dikatakannya akan kembali meninjau pergerakan pasar yang cenderung fluktuatif. Hal itu menjadi salah satu faktor penentu arah kebijakan sektor ritel. "Ya namanya pasar selalu ada koreksi. Mungkin ini waktunya untuk mengkoreksi mengingat pasar itu bisa bubble. Saat bubble-nya turun, pemerintah akan lihat perkembangannya," tandasnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya