Pupuk Indonesia Minta Insentif untuk Serap Gas Masela dan Kasuri

Gabriela Jessica Restiana Sihite
28/6/2017 10:55
Pupuk Indonesia Minta Insentif untuk Serap Gas Masela dan Kasuri
(ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

PT PUPUK Indonesia (persero) akan meminta insentif untuk menyerap gas di Blok Masela Maluku dan Blok Kasuri Papua Barat. Pasalnya, harga gas di kedua wilayah kerja tersebut masih dianggap mahal.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Isdat mengatakan pihaknya telah menghitung harga sementara gas dari kedua proyek tersebut, yakni US$3 per mmbtu. Namun, angka tersebut lebih kecil dari perhitungan sementara pemerintah terhadap harga gas Masela yang sebesar US$5,86 per mmbtu.

"Kalau tetap tidak bisa ditekan lagi, kami minta insentif tambahan supaya penugasan ini tidak membuat kami rugi. Mungkin kami minta tax holiday dan kesiapan infrastrukturnya sebagai kompensasi," ucap Aas saat ditemui pada Open House di kediaman Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Jakarta.

Menurut Aas, kedua proyek pengembangan gas tersebut berada di daerah remote, sehingga membuat biaya logistik mahal. Karena itu, perusahaan pelat merah tersebut meminta insentif terhadap mahalnya perhitungan sementara harga gas dari Masela dan Kasuri.

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman meminta harga gas dari Blok Masela untuk industri dipatok US$5,86 per mmbtu. Tujuannya, agar industri mau membeli gas dengan jangka waktu lama, yakni hingga 23 tahun.

Sementara gas dari Blok Kasuri masih dalam tahap negosiasi harga antara Genting Oil Pte Ltd sebagai operator blok dan industri pemakai gas, termasuk Pupuk Indonesia. Gas dari Blok Kasuri rencananya untuk memasok kebutuhan pabrik petrokimia yang akan dibangun di Teluk Bintuni, Papua Barat.

"Di Bintuni dan Masela nanti, kami tidak memproduksi pupuk karena pabrik eksisting sudah cukup untuk memenuhi permintaan domestik. Dua proyek itu rencananya buat produksi petrokimia," ucap Aas.

Kendati demikian, pihaknya masih tetap menjalankan penugasan dari pemerintah untuk membangun pabrik petrokimia dan menyerap gas dari dalam negeri sebagai bahan bakunya. Pupuk Indonesia masih melakukan studi kelayakan di kedua proyek tersebut.

Operasikan Pabrik Baru

Lebih lanjut, Aas mengungkapkan pihaknya akan segera mengoperasikan dua pabrik pupuk baru pada tahun ini. Dua pabrik tersebut, yakni Pabrik Pupuk Sriwidjaya IIB dan pengembangan Pabrik Petrokimia Gresik Ammonia II.

Peresmian Pabrik Pupuk Sriwidjaya IIB rencananya akan dilakukan usai Lebaran oleh Presiden Joko Widodo. "Pupuk Sriwidjaya IIB sudah selesai. Insya Allah bisa diresmikan Pak Presiden habis Lebaran," tukasnya.

Dengan begitu, kapasitas produksi Pupuk Indonesia akan bertambah menjadi 13,7 juta ton per tahun pada akhir 2017 dari yang saat sebesar 12 juta ton per tahun. "Insya Allah mudah-mudahan dengan begitu tahun depan kami bisa running produksi kapasitas maksimum menjadi 13 juta ton per tahun," imbuh Aas. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya