Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK pernah terbayangkan Devi Yulianti, 46, masih bisa menghirup udara sampai saat ini. Padahal, dulu ia divonis hanya bisa hidup sampai usia 7 tahun. Namun, ia masih berjuang melawan talasemia bersama 600 orang lain di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat (Jabar).
Devi sejak usia 4 tahun mengidap penyakit talasemia. Penyakit kelainan darah bawaan ini ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Sedangkan gejala pada anak-anak biasanya terlihat dari tumbuh kembangnya yang tidak normal, kulitnya pucat, sesak napas, dan fisiknya lemah.
Kini Devi mengambil peran menjadi Ketua Perhimpunan Penyandang Talasemia Indonesia (PPTI) Kota Bandung. Dia bersama rekan-rekannya rutin membantu para penyandang talasemia untuk mendapatkan transfusi darah dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. "Banyak yang baru juga terdeteksi talasemia. Banyak juga yang sudah meninggalkan kita karena talasemia. Kemarin saja di Mei, ada enam orang yang meninggalkan kita. Penyebabnya mungkin karena zat besinya makin naik dan daya tahan tubuh juga menurun," terang Devi yag ditemui pada kegiatan Hari Donor Darah Sedunia yang diadakan di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Selasa (14/6).
Devi mengatakan ada yang terkena talasemia di usia dewasa. Ada yang baru ketahuan di usia 42 tahun. Ternyata setelah cek hemoglobin (Hb) baru diketahui dia terkena talasemia mayor dengan Hb 4. Namun, memang kebanyakan terdeteksi sejak usia bayi.
Devi pun membagikan kisah perjuangannya sejak kecil melawan talasemia. Dulu, saat masih usia anak-anak, dirinya tidak hanya melakukan transfusi darah, tetapi juga diberikan obat desferal yang disuntikkan lima kali per minggu. "Desferal merupakan injeksi yang mengandung deferoxamine. Gunanya untuk menangani kelebihan kadar zat besi dalam darah. Sekarang desferal sudah tidak ada. Para penyandang talasemia sudah diberikan kemudahan dengan tablet agar tidak terjadi pembengkakan limpa. Saya dulu bisa habis Rp16 juta per bulan," jelasnya.
Pada saat anak lain mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) ketika masuk SMA, dirinya terpaksa dilarikan rumah sakit dan harus diopname. Bahkan, ia sempat mengalami koma selama sebulan. Berat badannya turun drastis dari 48 kg menjadi hanya 18 kg.
"Saya pun harus rutin melakukan transfusi darah seminggu sekali dan diinjeksi selama lima hari dalam seminggu. Namun, kini hanya transfusi darah sembilan bulan sekali, bahkan paling cepat bisa lima bulan sekali. Namun, setiap bulan saya tetap harus periksa darah dan rutin minum obat," lanjutnya.
Bagi Devi, kemajuan yang ia alami sekarang tak lepas dari 'obat' utama dalam hidupnya, yakni keluarga. Dia tidak pernah menyangka bisa memiliki keluarga kecil bersama suami dan kedua anaknya yang sehat. Ini semua berkat kuasa Allah dan dukungan dari keluarga.
"Support system penting sekali. Suami dan anak-anak sangat mendukung saya. Mereka tidak pernah memperlakukan saya seperti orang sakit. Kalau misalnya gejala talasemia saya kambuh, suami saya selalu bilang, 'Ibu hebat! Ibu pasti bisa. Ibu kuat,' seperti itu," cerita Devi dengan mata berkaca-kaca.
Setelah dua tahun menikah, lanjut Devi, dia akhirnya memiliki dua anak. Anak pertama berusia 22 tahun yang diterima di TNI AU Makassar. Anak keduanya masih berusia 10 tahun. Bukan perkara mudah bagi dia untuk mengandung dan melahirkan dua anak. Ia berjuang penuh untuk tetap sehat, rutin transfusi darah seminggu sekali, terus cek kesehatan, dan minum semua obat yang diberikan dokter.
Baca juga: Banjir Rob Diprediksi Landa hampir Seluruh Pesisir NTT
Dia sangat merasa terbantu dengan peran PMI di masa perjalanan perjuangannya melawan talasemia. Dirinya juga berharap agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bisa bersama-sama terus menyebarluaskan mengenai talasemia. "Rantai talasemia ini harus kita putus, salah satunya melalui seminar, terutama bagi mereka yang akan menuju jenjang pernikahan. Setiap orang harus melalukan pemeriksaan pranikah secara detail. Soalnya, meski keduanya sehat, tetapi bisa jadi mereka carrier atau pembawa talasemia. Akibatnya, kemungkinan besar anaknya akan mengalami talasemia mayor atau minor," ungkapnya lagi.
Menurut Devi, talasemia minor bisa transfusi setahun sekali atau lima bulan sekali. Sedangkan talasemia mayor itu seminggu sekali harus transfusi darah. Ada orangtua penyandang talasemia yang kehilangan dua anaknya berturut-turut dalam kurun waktu sembilan hari. "Pak Ayep punya tiga anak, dua di antaranya penyandang talasemia. Keduanya sudah meninggal dalam kurun waktu 9 hari. Sudah dewasa semua. Profesi keduanya kepala sekolah dan guru. Meski begitu, Pak Ayep tetap ikut untuk mendampingi para penyandang talasemia sampai saat ini," tambahnya. (OL-14)
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Bertambahnya suhu bumi membuat kuman maupun virus bisa bertumbuh dengan lebih subur sehigga cukup berbahaya pada anak yang belum terproteksi dengan imunisasi rutin.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andi Kurniawan Sp.KO ingatkan jemaah haji waspadai risiko diabetes, hipertensi, hingga jantung akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
Jeni memang tercatat sebagai pemegang gelar Puteri Indonesia Riau 2024. Namun, posisi tersebut dinilai membawa tanggung jawab besar.
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Kenali perbedaan bakteri, virus, jamur, dan protozoa serta cara efektif memutus rantai penyebaran kuman demi menjaga kesehatan tubuh.
Menjelang Hari Buruh, laporan Indonesia Health Insights Q2 2026 mengungkap telekonsultasi mampu tangani 95 persen kasus medis dan tekan biaya kesehatan hingga 15 persen.
Sering memangku laptop? Hati-hati, kebiasaan ini bisa memicu gangguan kulit, masalah kesuburan, hingga nyeri punggung. Simak penjelasan medis dan tips aman.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan kembali menorehkan prestasi membanggakan ditingkat nasional dengan meraih penghargaan sebagai Kota Unggul dalam Inovasi ibu dan anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved