Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Para uskup di Spanyol meminta maaf setelah sebuah laporan yang memperkirakan lebih dari 200 ribu anak di bawah umur telah mengalami pelecehan seksual oleh pendeta Katolik Roma di negara tersebut sejak tahun 1940.
Namun Konferensi Waligereja Spanyol mengatakan angka-angka yang disebutkan dalam laporan tersebut, yang dikeluarkan oleh komisi independen, “tidak sesuai dengan kebenaran”.
Laporan surat kabar yang diterbitkan pada Jumat (27/10) lalu memang tidak menyebutkan jumlah korban pelecehan secara spesifik, namun berdasarkn jajak pendapat terhadap lebih dari 8.000 orang menemukan bahwa 0,6% penduduk dewasa Spanyol mengaku pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh pendeta ketika mereka masih anak-anak.
Dengan populasi sekitar 39 juta orang, maka diperkirakan akan ada sekitar 230.000 korban.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah sidang luar biasa diadakan untuk menilai laporan tersebut, konferensi tersebut mengatakan: “Para uskup yang hadir telah menyatakan kesedihan mereka atas kerusakan yang disebabkan oleh beberapa anggota Gereja dengan pelecehan seksual dan mengulangi permintaan pengampunan dari para korban.”
“Pelanggaran yang dilakukan di Gereja sangat menyakitkan. Ekstrapolasi yang dilakukan dari data yang diperoleh dalam survei yang dilampirkan pada laporan tersebut juga mengejutkan,” tambah pernyataan itu.
“Mereka (jumlah korban) tidak sesuai dengan kebenaran dan juga tidak mewakili kelompok pendeta dan orang beriman yang bekerja dengan setia dan dengan dedikasi hidup mereka dalam melayani kerajaan.”
Perwakilan uskup ini dijadwalkan untuk memberikan konferensi pers mengenai masalah ini pada hari Selasa (31/10) waktu setempat.
Laporan hari Jumat – investigasi besar pertama terhadap pelecehan anak di bawah umur oleh anggota Gereja Katolik di Spanyol – diterbitkan setelah 14 bulan dikerjakan.
Kasus-kasus yang dirinci di dalamnya terjadi pada tahun 1940an, namun sebagian besar terjadi antara tahun 1970 dan 1990.
Dalam pesan yang diunggah ke media sosial setelah laporan tersebut diterbitkan, Kardinal Juan Jose Omella, presiden Konferensi Waligereja, mengatakan Gereja mengetahui adanya 1.125 kasus pelecehan seksual.
Berbeda dengan negara-negara lain, di Spanyol -- negara yang secara tradisional beragama Katolik namun kini menjadi sangat sekuler -- tuduhan pelecehan yang dilakukan oleh para pendeta baru-baru ini mulai mendapat perhatian, sehingga mendorong para penyintas untuk menyelidiki diam-diam.
Parlemen Spanyol pada Maret 2022 telah menyetujui pembentukan komisi independent untuk menyelidiki masalah ini. Namun, Gereja Katolik di negara itu menolak untuk mengambil bagian dalam penyelidikan tersebut, meskipun mereka bersedia memberikan dokumen mengenai kasus-kasus pelecehan tersebut.
Mereka secara terpisah menugaskan sebuah firma hukum swasta untuk melakukan penyelidikan terhadap pelecehan seksual di masa lalu dan sekarang yang dilakukan oleh pendeta, guru, dan pihak lain yang terkait dengan Gereja, harus diselesaikan pada akhir tahun ini.
Pola perundungan yang meluas terhadap anak-anak dalam Gereja Katolik dalam beberapa dekade terakhir telah dilaporkan terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, Cile, dan Australia, sehingga melemahkan otoritas moral dari 1,3 miliar anggota Gereja.
Sebuah komisi independen di Prancis menyimpulkan pada tahun 2021 bahwa sekitar 216.000 anak – sebagian besar laki-laki – telah menjadi korban perundungan seksual oleh pendeta sejak tahun 1950. (AFP/M-3)
Setiap lembaga pengasuhan anak wajib menyediakan fasilitas yang dapat dipantau langsung, seperti CCTV, agar orang tua memiliki akses terhadap apa yang terjadi pada anaknya.
Wihaji menekankan bahwa setiap daycare yang masuk dalam binaan pemerintah harus melalui proses seleksi ketat.
KPAI mengutuk keras kekerasan terhadap 53 anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta. Jasra Putra soroti lemahnya pengawasan dan regulasi daycare di daerah.
Pemkot Banda Aceh resmi menutup Daycare Baby Preneur setelah kasus penganiayaan balita viral. Terungkap bahwa tempat penitipan anak tersebut tidak memiliki izin.
Polresta Banda Aceh menangkap terduga pelaku penganiayaan balita di Daycare Baby Preneur. Kasus terungkap setelah rekaman CCTV viral di media sosial.
Pihak korban menyampaikan tiga kebutuhan utama, yakni penegakan hukum yang transparan, pendampingan menyeluruh, serta jaminan pembiayaan bagi anak-anak korban.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved